duidays

Episode Baru (lagi): Biak

Seperti yang pernah saya sampaikan, hidup di Papua tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Di sini hidup normal-normal saja kok. Banyak pendatang yang juga hidup di bumi Cendrawasih ini. Entah ditugaskan dari pekerjaannya seperti tentara, polisi, PNS atau BUMN seperti suami saya. Ataupun ikut program transmigrasi dari pemerintah.

Biak sendiri -kata orang-orang sini- daerah yang paling aman untuk ditinggali dibandingkan dengan daerah lain di Papua. Barangkali karena di sini markas angkatan bersenjatanya lengkap,ada TNI AL,AD,dan AU,juga kepolisian. Selain itu wilayahnya keciil dibatasi dengan laut. Jadi sulit sekali untuk kabur kalau misalnya ingin berbuat kekacauan, entah perang suku atau konflik yang ditimbulkan oleh gerakan separatis. Beda dengan Kab.Jayawijaya. Daerahnya dikelilingi pegunungan. Kalau berbuat kacau tinggal kabur ke pedalaman. Susah dicari deh hehe. Dan memang kenyataannya ketika kami tinggal di Wamena,berapa kali kami mengalami kejadian kerusuhan. Tidak terlalu besar, tapi tetap saja membuat kami cukup was-was.

Sudah mau 1 tahun kami tinggal di Biak ini. Wew ga kerasa yah. Kesan pertama: panasss! Mirip2 dengan Gorontalo. Juga banyak nyamuk. Tipikal daerah pantai ya panas dan nyamuk. Meski demikian, cuaca di Biak ini seringkali tidak menentu. Bisa saja dari pagi langit terlihat cerah,namun siang hari tiba2 hujan turun dengan derasnya. Nyamuknya ini yang harus diwaspadai, karena malaria masih endemik di daerah pantai di Papua. Tetangga depan dan samping kiri kanan saya sudah pada kena malaria. Dan sepertinya sudah menjadi SOP di sini, kalau sakit panas maka yang diperiksa pertama kali adalah cek darah. Apakah positif malaria atau tidak.

Seperti beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengeluhkan rasa sakit di perut bagian kanan yang menjalar ke paha. Sempat demam juga. Saya curiga kalau sakit usus buntu, karena pernah pas dipijit sama tukang pijit trus ditekan bagian situ sakit, kata tukang pijitnya sakit usus buntu. Jadi weh rada parno. Nah, pas diperiksa sama perawatnya disuruh cek darah. Eh naha asa teu nyambung, pikir saya. Saya kan sakit di bagian perut, tapi kenapa harus tes darah, kirain mau di USG mau dilihat organ dalamnya. Oh rupanya gejalanya mirip sama kalo kena malaria. Ketika antri cek darah, saya barengan sama 2 ibu-ibu penduduk lokal. Mereka tinggal cukup jauh, di daerah pantainya. Hasilnya? Jreng-jreng, 2 ibu tadi positif malaria, sedangkan saya negatif. Ya Allah… alhamdulillah saya tidak kena malaria.

Lalu anak saya yang kedua, Halim, juga sempat panas tinggi dan diare. Datang ke RS AU yang pertama kali dicek adalah darahnya. Alhamdulillah negatif dan setelah diperiksa ke dokter disuruh banyak ASI dan cairan saja dan dikasih zinc untuk pencernaannya. Lalu yang kedua kalinya, Halim panas lagii. Subhanallah bikin panik, karena ini susah makan dan minum karena ada sariawan. Sama, prosedurnya dicek dulu darahnya. Negatif. Ketika diperiksa dokter, rupanya flu singapur atau HMFD (Hand Mouth and Foot Disease). Selain sariawan di mulutnya, di kaki dan tangannya juga ada semacam bintil-bintil. Selama penjelasan dari dokter saya terbengong-bengong, ga kepikiran sama sekali kalo kena flu singapur. Rada leuleus juga sih. Tapi Alhamdulillah, sakit yang disertai rewelnya 3 hari saja. 3 hari yang luar biasa :D.

Ya begitulah sedikit cerita. Jadi bahas ke malaria yah hehe. Mudah-mudahan selama kami hidup di sini senantiasa sehat walafiat. Katanya malaria mudah menyerang kalo badan kita sedang tidak fit dan kurang tidur.

Leave a comment »

Merayakan Kemenangan Pertama

cuma makan magnum choco and cappucino aja kok. sepuluhribuan. hehe. ga neko-neko. yaa lumayanlah untuk mengapresiasi setiap bentuk keberhasilan diri, sekecil apapun itu =).

yap, alhamdulillah hari ini kelar sudah seminar yang membuat saya tidak tidur nyenyak berhari-hari. tegang sudah pasti. tapi legaaa rasanya. ga peduli sengacapruk apa tadi saya bicara di depan. yang pasti sudah selesai! ya, sudah selesai untuk hari ini ahaha. masih ada tugas menumpuk ke depan. tulisan tesis dengan berbagai macam masukan dari dosen penguji, sidang kecil and terakhir tentu saja sidang akhirr…!

okkay, siapkan amunisi. harrus bikin tulisan tesis yang bermutu, berbobot, keren dan luar biasa. halah. amin. insyaALlah bisa!

oya sedikit cerita tentang seminar tadi. sebetulnya saya ga siaap banget untuk presentasi. bahkan ketika di perjalanan sempat berdoa semoga ada keajaiban presentasinya diundur, dosen berhalangan hadir, ada acara kampus atau apapunlah yang menyebabkan seminar ditiadakan. hihi.. lalu di perjalanan menuju kampus saya ditelpon teman. udah seneng duluan, ah mungkin ga jadi. eehh rupanya bukan seperti itu skenario yang Allah berikan. saya diminta segera menuju ruang seminar karena belum ada teman2 lain yang hadir ehehe..

singkat cerita akhirnya saya tiba di ruang seminar. lalu ketika giliran saya presentasi, eh laptop saya ga bisa disambungkan dengan proyektornya. oke, diganti pake laptop teman yang sebelumnya presentasi, so saya pindahkan dulu itu data ke flashdisk. eh, pake ngehang lagi itu laptop. aya-aya wae. udah makin panik aja. saya teaa panikan bin tegang. sampai-sampai pembimbing mendekat trus ikut ngasih saran kalo ngehang dicabut batrenya (well baru kali ini saya laptop ngehang dicabut batrenya). yowis diikuti saja sarannya. itupun dibantu oleh teman yang lain. akhirnya menyala juga. karena sudah tegang duluan, akhirnya ketika presentasi kebawa tegang. mungkin kalau saya jadi pendengar, saya terlihat seperti yang dikejar-kejar, kayak pengen ngemuntahin semua yang ada di pikiran tapi tersendat di ucapan. dah duh ternyata banyak yang kelewat di edit slide-nya. rieutt lah pokona. bener-bener saya ga berani melihat pembimbing. maafkan saya bu..bikin malu aja.

ketika sesi tanya jawab, ya lumayanlah bisa menjelaskan. saya juga dapat masukan-masukan dari penguji untuk lebih menstrukturkan isi tesis saya. asyik juga sih sebetulnya, di seminar ini lebih kepada memberi masukan terhadap hasil penelitian kita. mana yang kurang-kurang ditambahkan. jadi akan ada perbaikan di penulisan tesis yang nanti juga akan disidangkan kembali.

akhhirnya setelah satu jam di depan dosen dan teman-teman, saya merasa legaaa banget. dan ketika melihat teman lain yang juga presentasi, presentasi dan tesis saya ga jelek-jelek amat kok hehe. alhamdulillah. satu tahap sudah terlewati. baik atau buruk saya menghargai setiap apa yang sudah saya usahakan. dan tentu saja ini juga tidak terlepas dari doa teman-teman yang saya sms-i malam sebelum seminar, keluarga, dan suami tentu saja =)

alhamdulillah, all praises to Allah. terima kasih ya Allah =).

2 Comments »

Nasib Malang Si Penyu

Kemarin, ada tetangga yang memberi makanan kepada kami. Saya lihat di meja makan, “Hmm daging sapi, alhamdulillah” pikir saya. Kemudian si pemberi makanan itu berkata “Mbak, itu daging penyu, kemarin mamanya suami saya datang dari Tolinggula” (salah satu kecamatan di Gorontalo Utara, berbatasan dengan Sulawesi Tengah -red). Glekk.

Setelah tahu kalau itu adalah daging penyu, langsung hilang selera saya. Yang ada malah perasaan kasihan terhadap penyu yang bernasib malang itu. Ada telurnya lagi.. :(. Padahal penyu adalah salah satu hewan yang saat ini dilindungi karena jumlahnya yang terus berkurang. Kalau baca di sini penyu secara jelas dinyatakan dilindungi baik secara nasional, regional maupun internasional.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pangawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. “Bahwa penyu berikut bagian-bagiannya termasuk telurnya merupakan satwa yang dilindungi oleh negara.”

Secara internasional, Indonesia termasuk negara yang telah menandatangani CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora/Konvensi Internasional yang Mengatur Perdagangan Satwa dan Tumbuhan Liar Terancam Punah). Indonesia telah meratifikasinya melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 43 Tahun 1978 tentang CITES. Menurut CITES, seluruh penyu termasuk Appendiks I CITES, yang berarti, satwa tersebut dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan karena kondisinya terancam punah.

Secara regional, pada tanggal 12 September 1997 bertempat di Thailand, Pemerintah Indonesia bersama-sama negara ASEAN lainnya telah menandatangani kesepakatan bersama mengenai Konservasi dan Perlindungan Penyu. Serta tahun 2001 menandatangani nota kesepahaman di bawah Konvensi Konservasi Species Migratori Satwa Liar, perjanjian tersebut kemudian dikenal dengan Nota Kesepahaman Penyu Laut Kawasan Samudra Hindia dan Asia Tenggara (MoU Penyu Laut IOSEA/www.ioseaturtles.org).

Jadi teringat ketika dulu kulap ke TN. Meru Betiri di Jatim. Malam-malam dengan langit bermandikan bintang dan rembulan, kami di pesisir pantai terkantuk-kantuk sampai tengah malam menanti kehadiran penyu dari laut. untuk bertelur. Penyu adalah hewan yang hidup di laut. Namun ketika bertelur, mereka pergi ke darat (pantai), lalu kembali lagi ke laut.

Salah satu hal yang menyebabkan semakin berkurangnya penyu itu, kata bapak petugasnya (kalau ga salah ingat, maklum sudah lama :p), adalah telur-telur yang sudah dilahirkan oleh induk penyu dan ditimbun dalam pasir, dicuri oleh manusia. Karena itu salah satu cara untuk melestarikannya adalah dengan memindahkan telur-telur tersebut ke tempat penangkaran, sampai menetas dan menjadi anak penyu (tukik). Setelah diaklimatisasi, tukik-tukik itu akan dilepaskan kembali ke laut dan bertemu dengan sanak saudaranya yang lain :). Humm.. jadi kangen dengan kulap ekologi…

Tragisnya, kemarin saya dihadapkan dengan penyu dalam kondisi yang mengenaskan. Tadinya mau saya buang daging tersebut. Tapi kata ibu karena mubadzir, akhirnya diberikan kepada tetangga -_-. Pilihan yang sulit, karena kalau saya memberikan pada tetangga lalu bagaimana kalau tetangga itu bilang enak, lalu bagaimana kalau kemudian dia akan mencari lagi daging penyu dan memasaknya. Hwaa.. semoga tidak terjadi :((.

Satu hal yang terlupakan oleh saya adalah, saya tidak menyampaikan bahwa penyu berikut telurnya adalah hewan yang dilindungi oleh negara. Terus terang saya baru ngeh ternyata aturannya sangat-sangat jelas setelah baca link di atas. kemarin saya lebih mempermasalahkan apakah daging penyu halal untuk dimakan atau tidak. Setelah membaca dari beberapa sumber, termasuk di halal guide ternyataBELUM ada dalil baik dari Alquran maupun hadist shahih yang menyatakan haramnya mengonsumsi binatang yang hidup di dua alam, terkecuali katak dan kodok.

Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya serta pendapat yang shahih dari madzab Syafe’i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar, Utsman dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal kecuali katak (lihat pula Al-Majmu’ (9/35) , Al-Mughni (13/345), Adhwaul Bayan (1/59) oleh Syaikh As-Syanqithi, Aunul Ma’bud (14/121) oleh Adzim Abadi dan Taudhihul Ahkam (6/26) oleh Al-Bassam)

KURA-KURA dan PENYU  HALAL sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan Al-Bashri dan fuqaha’ Madinah. (Lihat Al-Mushannaf (5/146) Ibnu Abi Syaibah dan Al-Muhalla (6/84).

Meskipun halal untuk dikonsumsi, ada baiknya kita turut melestarikan hewan yang sudah semakin langka ini. Toh masih banyak jenis daging yang lain yang bisa dimakan bukan? Saya tidak tahu apakah di Gorontalo ini ada perlindungan khusus terhadap penyu atau tidak. Kalau tidak, sebaiknya pemerintah segera memberikan perhatian terhadap spesies yang dilindungi ini baik melalui penelitian, penangkaran, perlindungan, pengawasan, edukasi pada masyarakat, dll. Mudah-mudahan kejadian yang saya alami tidak terjadi lagi :).

sumber link:

www.kabarindonesia.com

www.halalguide.info

Leave a comment »