duidays

Episode Baru (lagi): Biak

on 6 February 2015

Seperti yang pernah saya sampaikan, hidup di Papua tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Di sini hidup normal-normal saja kok. Banyak pendatang yang juga hidup di bumi Cendrawasih ini. Entah ditugaskan dari pekerjaannya seperti tentara, polisi, PNS atau BUMN seperti suami saya. Ataupun ikut program transmigrasi dari pemerintah.

Biak sendiri -kata orang-orang sini- daerah yang paling aman untuk ditinggali dibandingkan dengan daerah lain di Papua. Barangkali karena di sini markas angkatan bersenjatanya lengkap,ada TNI AL,AD,dan AU,juga kepolisian. Selain itu wilayahnya keciil dibatasi dengan laut. Jadi sulit sekali untuk kabur kalau misalnya ingin berbuat kekacauan, entah perang suku atau konflik yang ditimbulkan oleh gerakan separatis. Beda dengan Kab.Jayawijaya. Daerahnya dikelilingi pegunungan. Kalau berbuat kacau tinggal kabur ke pedalaman. Susah dicari deh hehe. Dan memang kenyataannya ketika kami tinggal di Wamena,berapa kali kami mengalami kejadian kerusuhan. Tidak terlalu besar, tapi tetap saja membuat kami cukup was-was.

Sudah mau 1 tahun kami tinggal di Biak ini. Wew ga kerasa yah. Kesan pertama: panasss! Mirip2 dengan Gorontalo. Juga banyak nyamuk. Tipikal daerah pantai ya panas dan nyamuk. Meski demikian, cuaca di Biak ini seringkali tidak menentu. Bisa saja dari pagi langit terlihat cerah,namun siang hari tiba2 hujan turun dengan derasnya. Nyamuknya ini yang harus diwaspadai, karena malaria masih endemik di daerah pantai di Papua. Tetangga depan dan samping kiri kanan saya sudah pada kena malaria. Dan sepertinya sudah menjadi SOP di sini, kalau sakit panas maka yang diperiksa pertama kali adalah cek darah. Apakah positif malaria atau tidak.

Seperti beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengeluhkan rasa sakit di perut bagian kanan yang menjalar ke paha. Sempat demam juga. Saya curiga kalau sakit usus buntu, karena pernah pas dipijit sama tukang pijit trus ditekan bagian situ sakit, kata tukang pijitnya sakit usus buntu. Jadi weh rada parno. Nah, pas diperiksa sama perawatnya disuruh cek darah. Eh naha asa teu nyambung, pikir saya. Saya kan sakit di bagian perut, tapi kenapa harus tes darah, kirain mau di USG mau dilihat organ dalamnya. Oh rupanya gejalanya mirip sama kalo kena malaria. Ketika antri cek darah, saya barengan sama 2 ibu-ibu penduduk lokal. Mereka tinggal cukup jauh, di daerah pantainya. Hasilnya? Jreng-jreng, 2 ibu tadi positif malaria, sedangkan saya negatif. Ya Allah… alhamdulillah saya tidak kena malaria.

Lalu anak saya yang kedua, Halim, juga sempat panas tinggi dan diare. Datang ke RS AU yang pertama kali dicek adalah darahnya. Alhamdulillah negatif dan setelah diperiksa ke dokter disuruh banyak ASI dan cairan saja dan dikasih zinc untuk pencernaannya. Lalu yang kedua kalinya, Halim panas lagii. Subhanallah bikin panik, karena ini susah makan dan minum karena ada sariawan. Sama, prosedurnya dicek dulu darahnya. Negatif. Ketika diperiksa dokter, rupanya flu singapur atau HMFD (Hand Mouth and Foot Disease). Selain sariawan di mulutnya, di kaki dan tangannya juga ada semacam bintil-bintil. Selama penjelasan dari dokter saya terbengong-bengong, ga kepikiran sama sekali kalo kena flu singapur. Rada leuleus juga sih. Tapi Alhamdulillah, sakit yang disertai rewelnya 3 hari saja. 3 hari yang luar biasa😀.

Ya begitulah sedikit cerita. Jadi bahas ke malaria yah hehe. Mudah-mudahan selama kami hidup di sini senantiasa sehat walafiat. Katanya malaria mudah menyerang kalo badan kita sedang tidak fit dan kurang tidur.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: