duidays

Nasib Malang Si Penyu

on 6 May 2011

Kemarin, ada tetangga yang memberi makanan kepada kami. Saya lihat di meja makan, “Hmm daging sapi, alhamdulillah” pikir saya. Kemudian si pemberi makanan itu berkata “Mbak, itu daging penyu, kemarin mamanya suami saya datang dari Tolinggula” (salah satu kecamatan di Gorontalo Utara, berbatasan dengan Sulawesi Tengah -red). Glekk.

Setelah tahu kalau itu adalah daging penyu, langsung hilang selera saya. Yang ada malah perasaan kasihan terhadap penyu yang bernasib malang itu. Ada telurnya lagi..😦. Padahal penyu adalah salah satu hewan yang saat ini dilindungi karena jumlahnya yang terus berkurang. Kalau baca di sini penyu secara jelas dinyatakan dilindungi baik secara nasional, regional maupun internasional.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pangawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. “Bahwa penyu berikut bagian-bagiannya termasuk telurnya merupakan satwa yang dilindungi oleh negara.”

Secara internasional, Indonesia termasuk negara yang telah menandatangani CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora/Konvensi Internasional yang Mengatur Perdagangan Satwa dan Tumbuhan Liar Terancam Punah). Indonesia telah meratifikasinya melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 43 Tahun 1978 tentang CITES. Menurut CITES, seluruh penyu termasuk Appendiks I CITES, yang berarti, satwa tersebut dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan karena kondisinya terancam punah.

Secara regional, pada tanggal 12 September 1997 bertempat di Thailand, Pemerintah Indonesia bersama-sama negara ASEAN lainnya telah menandatangani kesepakatan bersama mengenai Konservasi dan Perlindungan Penyu. Serta tahun 2001 menandatangani nota kesepahaman di bawah Konvensi Konservasi Species Migratori Satwa Liar, perjanjian tersebut kemudian dikenal dengan Nota Kesepahaman Penyu Laut Kawasan Samudra Hindia dan Asia Tenggara (MoU Penyu Laut IOSEA/www.ioseaturtles.org).

Jadi teringat ketika dulu kulap ke TN. Meru Betiri di Jatim. Malam-malam dengan langit bermandikan bintang dan rembulan, kami di pesisir pantai terkantuk-kantuk sampai tengah malam menanti kehadiran penyu dari laut. untuk bertelur. Penyu adalah hewan yang hidup di laut. Namun ketika bertelur, mereka pergi ke darat (pantai), lalu kembali lagi ke laut.

Salah satu hal yang menyebabkan semakin berkurangnya penyu itu, kata bapak petugasnya (kalau ga salah ingat, maklum sudah lama :p), adalah telur-telur yang sudah dilahirkan oleh induk penyu dan ditimbun dalam pasir, dicuri oleh manusia. Karena itu salah satu cara untuk melestarikannya adalah dengan memindahkan telur-telur tersebut ke tempat penangkaran, sampai menetas dan menjadi anak penyu (tukik). Setelah diaklimatisasi, tukik-tukik itu akan dilepaskan kembali ke laut dan bertemu dengan sanak saudaranya yang lain🙂. Humm.. jadi kangen dengan kulap ekologi…

Tragisnya, kemarin saya dihadapkan dengan penyu dalam kondisi yang mengenaskan. Tadinya mau saya buang daging tersebut. Tapi kata ibu karena mubadzir, akhirnya diberikan kepada tetangga -_-. Pilihan yang sulit, karena kalau saya memberikan pada tetangga lalu bagaimana kalau tetangga itu bilang enak, lalu bagaimana kalau kemudian dia akan mencari lagi daging penyu dan memasaknya. Hwaa.. semoga tidak terjadi :((.

Satu hal yang terlupakan oleh saya adalah, saya tidak menyampaikan bahwa penyu berikut telurnya adalah hewan yang dilindungi oleh negara. Terus terang saya baru ngeh ternyata aturannya sangat-sangat jelas setelah baca link di atas. kemarin saya lebih mempermasalahkan apakah daging penyu halal untuk dimakan atau tidak. Setelah membaca dari beberapa sumber, termasuk di halal guide ternyataBELUM ada dalil baik dari Alquran maupun hadist shahih yang menyatakan haramnya mengonsumsi binatang yang hidup di dua alam, terkecuali katak dan kodok.

Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya serta pendapat yang shahih dari madzab Syafe’i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar, Utsman dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal kecuali katak (lihat pula Al-Majmu’ (9/35) , Al-Mughni (13/345), Adhwaul Bayan (1/59) oleh Syaikh As-Syanqithi, Aunul Ma’bud (14/121) oleh Adzim Abadi dan Taudhihul Ahkam (6/26) oleh Al-Bassam)

KURA-KURA dan PENYU  HALAL sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan Al-Bashri dan fuqaha’ Madinah. (Lihat Al-Mushannaf (5/146) Ibnu Abi Syaibah dan Al-Muhalla (6/84).

Meskipun halal untuk dikonsumsi, ada baiknya kita turut melestarikan hewan yang sudah semakin langka ini. Toh masih banyak jenis daging yang lain yang bisa dimakan bukan? Saya tidak tahu apakah di Gorontalo ini ada perlindungan khusus terhadap penyu atau tidak. Kalau tidak, sebaiknya pemerintah segera memberikan perhatian terhadap spesies yang dilindungi ini baik melalui penelitian, penangkaran, perlindungan, pengawasan, edukasi pada masyarakat, dll. Mudah-mudahan kejadian yang saya alami tidak terjadi lagi🙂.

sumber link:

www.kabarindonesia.com

www.halalguide.info


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: