duidays

Rindu Sayur, -Mencoba- Berkawan dengan Ikan

on 19 July 2010

Rindu beragam jenis sayur yang ada di Bandung nih. Wortel, kentang, sosin, kacang merah, daun singkong, daun tangkil, melinjo, buncis, tidak bisa dijumpai setiap hari di sini -bisa dikatakan hampir tidak ada untuk buncis, tangkil, melinjo-. Tukang sayur yang lewat dengan menggunakan motor dan suara klakson terompet yang dipencet-pencet, ‘hanya’ menjual kangkung, terong, kacang panjang, tahu putih dan kol yang sudah diris-iris. Itu selalu setiap hari, ditambah tomat dan cengek. Terkadang ada pula bayam atau sosin. Kadang-kadang itu juga, seringnya ya kangkung. Barangkali karena di sini yang melimpah adalah ikan-ikan laut, maka jenis sayur yang pas untuk menjadi teman seafood itu ya kangkung. Bosaann. Mana aku belum bisa masak ikan lagi.. =(.

Tanah di Sulawesi -terutama di Gorontalo Utara ini- memang kurang cocok untuk ditanami sayuran. Tanahnya berbatu dan cuacanya panas. Walhasil jenis pertanian yang banyak dibudidaya di sini adalah tanaman jagung. Kalau Bandung kan memiliki dataran tinggi seperti Lembang dan Pangalengan yang cocok untuk sayuran dan buah-buahan.

Well, aku harus membiasakan dengan jenis konsumsi yang berbeda dengan daerah asalku. Untuk mengupayakan tercukupinya kebutuhan sayur, jadinya aku membuat rencana daftar menu selama 1 pekan, lalu membeli bahan-bahan pokok sayurnya -yang tidak di jual di tukang sayur yang lewat- di swalayan di Kota Gorontalo.

Satu hal yang cukup unik di desaku ini adalah tidak ada warung yang menjual sayuran. Jadi kalau mau membeli sayur atau ikan untuk dimasak, stand by-lah di pinggir jalan pada pukul 06.00-sekitar 08.00. Akan ada penjual sayur menggunakan motor yang lalu lalang dengan jenis sayuran yang hampir mirip, seperti yang aku ceritakan di atas. Bagian belakang motornya ditempeli keranjang kayu yang berisi kangkung berikat-ikat dan sedikit kacang panjang atau terong dan irisan kol, tahu putih, tomat dan cengek. Ada yang masih lengkap semuanya, ada juga yang sudah habis terjual -tentu saja kangkung masih tersedia-. Terkadang cukup lama juga menunggunya. Ketika masih berada di rumah, suara klakson bersahutan, eh pas sudah ada di pinggir jalan, tukang sayurnya sudah lewat dan harus menunggu tukang sayur berikutnya. Kalau penjual ikan bunyi klaksonnya beda lagi, ditiup bukan dipencet. Dan di bagian belakang motor, ada seperti box yang berisi ikan segar. Nah di sinilah surganya ikan laut segar. Beragam ikan segar dengan harga murah banyak tersedia. Kakap putih, kakap merah, kepiting, dll. Tapi aku belum pernah memberhentikan penjual ikan. Itulah, aku harus mengondisikan diri dulu untuk bisa memasaknya.. =’).

Setiap hari ahad, ada pasar tradisional di lapangan dekat rumahku. Banyak barang yang diperjualbelikan, seperti baju, perabot rumah tangga, sayuran, rempah-rempah, ikan, sepatu, alat elektronik, dll. Lumayan lengkap. Jadi untuk bawang merah dan rempah-rempah lainnya, aku membeli untuk persediaan selama 1 pekan. Seperti yang sudah kukatakan, warung-warung di sini tidak menjual bahan-bahan masakan yang alami seperti bawang merah, bawang putih, laos, dll. Pasar ini berpidah-pindah setiap harinya. Hari Senin dan Kamis, pasar berlokasi di Desa Moluo, berjarak 19 km. Aku pernah ke pasar Kamis di Moluo, pasarnya di kaki bukit dong! Wih Subhanallah. Hari Selasa, Rabu dan Jum’at aku tidak hafal letaknya dimana.

Oke deh. Sepertinya aku harus belajar masak ikan yang enak. Mumpung mudah mendapatkan ikan laut segar bebas merkuri -insyaAllah- yang murah meriah. Semoga menjadi tambahan nutrisi untuk keluargaku.. Aamiin ^^


9 responses to “Rindu Sayur, -Mencoba- Berkawan dengan Ikan

  1. purnaning says:

    minyak ikan didapetnya dari ikan kan wi, kalo banyak makan ikan berarti banyak makan minyak ikan? iya ga berarti juga bagus untuk meningkatkan kecerdasan.. kalo masaknya tanya mbah google aja😀 btw euis juga banyak bertemu dengan menu ikan lo di bangka..

    • dpujia says:

      arry.. iya beteuul. cuman kalo minyak ikan mah prosesnya beda kali ya. katanya juga ikannya dari perairan yg sangat dalam, trus daerah dingin banget, makanya kalo minyak ikan yg asli dimasukin ke kulkas (atau freezer yah?) ga kan beku. kalo masak ikan sendiri kan dimasak, digoreng, dikukus, bisa banyak yg ilang juga kandungannya. hehe.. tp yg pasti mah ikan makanan yg sangat2 sehat. omega dan proteinnya mmg tinggi.

      tapi ry,, sekarang dwi dah berani masak ikan hehe… alhamdulillah. sblmnya agak2 gmn gitu agak ribet kan harus dibersiin segala, bau amis pula. hehe meuni manja.

  2. lesly says:

    wew dwi….

    jadi inget kisahnya fathimah az zahra waktu minta khadimat sm rosulullah saw

    ganbarimashou!
    (mari kita semangat)

  3. Tika says:

    Suatu hari nanti, Dwi akan keranjingan ikan. temen2 saya yang berasal dari daerah timur kayak sulawesi sampe di jogja pun, kalo disuruh milih daging ato ikan, dia milih ikan. klo minta kirimin makanan dari kampung, kirimannya berupa ikan asin ato abon ikan. pokoknya ga jauh2 dari ikan😛

    Satu hal yang saya perhatikan, rata2 otaknya tok cer, Wi. Mungkin karena makan ikan tiap hari. Well, mudahan-mudahan ini berkah tersendiri dari Alloh buat calon bayi Dwi. Semangat ukh, Alloh telah memilih anti🙂

    • dpujia says:

      suka dengan kalimat terakhir: semangat ukh, Allah telah memilih anti.
      wah subhanallah, terharu. iya nih ukh, hati ini sedang banyak diuji mengenai makna sabar dan syukur. jazakillaah sudah mengingatkan, teh tika ^^

  4. Tika says:

    oya, blog Dwi saya link ke blog saya ya? iya ajah, soalnya uda saya link-kan😀

    http://www.tikamaliyana.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: