duidays

Gorontalo, yes i’m here

on 30 June 2010

tidak terasa 1 pekan 3 hari sudah aku di gorontalo. eh terasa ding. panas menyengat! subhanallah.. makanya sepanjang hari aku lebih suka berdiam di rumah saja. panasnya mentari di luar membuat kepalaku cepat pening. syukurlah kemarin sudah membeli kipas angin. semliwir anginnya terasa lebih menyejukkan pikiran dan badanku, terlebih kalau sudah masak. pernah sauna? ya kira-kira seperti itulah gambarannya kalau aku sudah memasak di dapur yang masih beratapkan seng ini. huehehe.. -untung dapur dan kamar mandinya saja yg masih beratap seng!-. belum lagi aku harus membiasakan diri lagi memasak menggunakan kompor minyak. wew, lama sekali untuk mencapai kematangan yang sempurna dari sebuah masakan. penduduk di sini memang masih menggunakan kompor minyak, bahan bakar yang dijual di warung-warung masih minyak tanah. lumayan murah, 1 liter harganya 3500 rupiah saja. rupanya subsidi gas 3 kg tidak sampai kesini. walhasil, aku harus menunda menggunakan kompor gas yang sudah terlanjur aku beli. gas yang tersedia hanya ada di kota Gorontalo, dan itu pun gas yang berukuran besar yang tabungnya berwarna biru. mahal euy, 650rb. lagipula setelah dipikir, nanti kerepotan juga kalau harus pindah tempat lagi atau mencari isi ulang gas.

satu pekan. satu pekan merasakan hati yang tidak menentu. jetlag kali ya. hmm,, entahlah perpaduan antara senang bisa dekat dengan suami (akhirnya setelah 6 bulan LDM!^^), sedih karena jauh dari keluarga dan teman-teman, juga bingung dengan adat budaya, bahasa dan cuaca yang berbeda di sini. begitulah. mungkin sama halnya dengan yang dirasa teman-teman lainnya ketika pindah ke daerah jauh dari kampung halaman. maklum ini kali pertamanya aku pergi jauh merantau. masih di indonesia juga sih, heuheu, cuman ya begitulah.. seumur-umur belum pernah aku membayangkan akan tinggal di Pulau Sulawesi. paling yang sempat terlintas dan menjadi impian adalah jalan-jalan mengunjungi berbagai tempat indah di indonesia, termasuk Bunaken yang ada di Prop.Sulawesi Utara. ini tinggal menetap gitu loh. lumayan 2 tahun lamanya. tentu settingan mental, hati, dan pikiran pun menjadi berbeda.

masih mending juga sih daripada tinggal di jakarta. wihh di jakarta sudah mah panas, macet, polusi pula. meski memang fasilitas bertebar dimana-mana. disini, hampir dipastikan tidak ada macet. jalan mulus rahayu, pemandangan hijau dan asri, masih banyak sawah dan bukit-bukit. indah sekali, cocok deh untuk menunjang kesehatan lingkungan para ibu hamil. apalagi kalau diajak jalan-jalan pagi sama suami. segar sekali rasanya. jalan trans sulawesi yang melintas di depan rumah, masih sangat-sangat sepi kendaraan (di waktu-waktu lainnya pun kendaraan di sini tidak terlalu ramai). hampir sepanjang hari terlihat sapi dan ayam yang sedang asyik merumput dan mencari makan di ladang pinggir jalan (jangan khawatir untuk dicuri, disini cukup aman, bahkan membiarkan sapi sampai malam di pinggir jalan juga). hmm.. menikmati harmoni alam yang terhampar.. subhanallah walhamdulilllah..

ya begitulah. berharap aku bisa cepat beradaptasi di sini. bersama lingkungan dan tetangga yang baru. dengan fasilitas yang seadanya. oya, Gorontalo ini baru sekitar 3 tahun berdiri. tentu masih banyak sarana dan prasarana yang belum tersedia. tak usahlah membandingkannya dengan bandung. apalagi di tempatku tinggal, kabupaten Gorontalo Utara. mungkin dari cerita yang sedikit aku paparkan di atas, cukuplah tergambar bahwa aku tinggal di sebuah desa. listrik yang byar-pet, jaringan internet tidak stabil (hanya tertangkap sinyal GPRS. oya, disini belum ada jaringan telepon dari telkom! ) selain itu banyak kebutuhan-kebutuhan yang harus aku beli di kota yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan.

ya, mari kita belajar dengan hidup yang sederhana cukup dengan apa yang ada =). dan hidupku baru dimulai kembali. di sini. di bagian bumi Allah yang lain.


3 responses to “Gorontalo, yes i’m here

  1. lesly says:

    subhanalloh, tiba juga episode baru dalam hidupmu wi,
    semoga diberi kesabaran, dwi kan akhwat tangguh😉

    2 tahun itu lama lho wi, sepertinya gas akan banyak berguna, apalagi mo lebaran. bukankah masak itu sarana menyenangkan suami/keluarga? jadi mesti juga bikin betah masak. kalo mau pindah, bisa dijual atau disedekahkan sama tetangga…

    sekedar saran, dwi yang lebih tahu medan, eh gorontalo🙂

  2. dpujia says:

    leslyy iya nih. masak itu sangat menyenangkan ternyata y ly. bisa mengembangkan otak kreatif kita juga ^^.. cuman masih pemula, belum yang aneh2 menunya kayak ly.

    nah itulah ly.. disini medannya tidak memungkinkan pakai gas. selain harga dan keterbatasan gas, cukup panas juga hawanya. takut meledak hehehehhe..😀

  3. purnaning says:

    iya wii sederhana itu lebih menenangkan.. plus meng’kreatif’kan..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: