duidays

Belajar Menjadi IRT

on 11 January 2010

Hmm.. begini rasanya menjadi ibu rumah tangga.  Sulit diungkapkan dengan kata-kata yang pas. Hanya hati yang bisa berbicara (halah). Seharian berada di rumah mengerjakan segala aktivitas rumah tangga. Sebagai seorang anak, biasa sih untuk melakukan kerjaan kayak nyapu, ngepel, nyuci, nyetrika, dll. Jadi bukan hal yang asing dan memberatkan mengerjakan pekerjaan yang itu-itu lagi. Tapi dengan status sebagai seorang istri dan berada bukan di tempat kelahiran, memberi rasa tersendiri. Itu baru sebagian kecil yang saya rasakan waktu berkesempatan mengunjungi suami di indramayu. Kali ketiga saya ke sana, pergi seorang diri dari Leuwi Panjang. Yang pertama berombongan satu keluarga mengantar sayabeberapa hari setelah menikah -karena suami ada piket di kantor jadi weekend tidak bisa ke cimahi-, lalu yang kedua ketika pulang dari kuningan, saya ingin bareng ikut suami ke indramayu, masih kangen ceritanya ^^.

Biasanya ketika di indramayu saya tidak sendirian di rumah. Karena weekend, ada suami juga menemani. Ketika suami piket, saya juga ikut ke kantor, atau kalaupun saya tidak ikut, piketnya sebentar. Kemarin saya benar-benar sendiri di rumah layaknya seorang ibu rumah tangga. Suami pergi ke kantor tinggallah saya di rumah. Beneran seperti ibu rumah tangga. Saya masak, nyuci piring, nge-net, jalan2 ke tetangga. Tampak sangat simple ya kerjaannya. Tapi ketika dijalankan, lumayan menguras waktu dan tenaga juga. Keasyikan masak, tau tau sudah jam 4 sore.

Sempet geje juga sih, serba bingung ga ada aktivitas yang gimana gitu. Merasa asing di lingkungan yang baru. Untungnya bibik yang nyuciin bajunya suami datang ke rumah, jadi saya bisa jalan ke luar rumah, berkunjung ke rumahnya melihat lingkungan sekitar. Agak rikuh juga kalau tidak ada yang dikenal.

Inilah barangkali sedikit gambaran masa depan saya ketika benar-benar tinggal bersama suami. Tampak akan sangat membosankan ya T_T. Tapi keren lho. Beneran. Tidak ada pekerjaan lain yang lebih lama dari pekerjaan sebagai seorang ibu rumah tangga. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Membereskan rumah, melayani keperluan suami, bersosialisasi dengan tetangga. Kalau sudah punya anak, tambah jam dengan merawatnya, mendidiknya, bahkan jam tidur pun akan terpakai. Kalau itung-itung pake gaji, wuihh gede tuh. Tapi keluarga kan dibangunnya atas landasan ibadah, kontraknya sama Allah. Lebih dari sekedar rupiah. Surga bung!! Kalau tidak ingat janji ALlah dan pahala yang sangat besar ketika menjadi seorang istri yang sholehah, akan tampak sangat berat menjadi ibu rumah tangga bagi seorang calon magister seperti saya (halah). Tapi tetap saja harus kreatif menciptakan aktivitas tambahan yang menyenangkan dan produktif. Bekerja meniti karir tentunya akan cukup sulit, karena kondisi pekerjaan suami yang berpindah tempat dalam selang 4-5 tahun sekali di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Saya yakin, potensi saya yang diasah selama ini tidak akan mati begitu saja ketika mengabdi pada suami. Musti ada diferensiasi ketika seorang yang berpendidikan tinggi menjadi ibu rumah tangga dibandingkan dengan yang tidak berkesempatan untuk menikmatinya.  Keluarga yang dihasilkan haruslah menjadi keluarga yang unggul dan menjadi pelita bagi masyarakat sekitar. Anak-anak yang terlahir adalah anak-anak yang shalih/ah, cerdas, berakhlakul karimah dan menjadi jawaban dari keresahan umat. Mudah-mudahan saya bisa menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anak saya, dan menjadi istri yang shalihah bagi suami saya. Tidak berhenti di situ, semoga juga saya menjadi bagian dari anggota masyarakat yang bermanfaat, memiliki andil dalam melakukan perubahan yang lebih baik. Begitu banyak amalan yang bisa kita lakukan untuk menjadi ‘part of solution’. Tidak terpaku pada institusi-institusi formal. Disinilah kreatifitas dan inisiatif kita diasah. Dan begitu banyak pula pintu-pintu rezeki yang bisa dibuka, tak melulu melalui jalan karir kantoran dan semacamnya. Namun dari sinilah saya akan memulainya. Dari pintu rumah tangga -keluarga- yang menjadi pondasi bagi tegaknya kembali kejayaan umat. Insya Allah.


2 responses to “Belajar Menjadi IRT

  1. purnaning says:

    “..surga Bung?” kelebihan huruf ‘ng’ ya wi, hehe

    kalo kata bu Amy: (lupa redaksionalnya) intinya, biar bisa mendidik anak dengan baik, ibu2 zaman sekarang harus lebih pintar dari anak2nya apalagi sekarang zamannya IT dimana-mana..

    tenang wi, insya Allah kepake ijazah masternya🙂

  2. dpujia says:

    subhanallah ariw, jadi terharu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: