duidays

Berbahasa Inggris

on 30 December 2009

Entah mengapa sampai saat ini saya masih kesulitan untuk memahami bahasa inggris dengan baik. Padahal sudah tingkat master baca jurnal ilmiah internasional saja masih belepotan. Wuihh. Salah satu hal yang cukup mengerikan ketika mendapatkan bahan literatur untuk menunjang penulisan skripsi dan thesis adalah jurnal yang berbahasa asing. Saya sangat suka membaca, termasuk bacaan yang ilmiah. Tapi kalau sudah berbahasa asing.. sangat tak bisa diandalkan. Saya kesulitan untuk mengambil sintesanya. Tidak yakin dengan pemahaman yang diperoleh dengan menerjemahkannya sendiri.

Mungkin ini semua berawal dari persepsi yang terbentuk ketika duduk di kelas 1 SMP dan terbawa ke alam bawah sadar. Waktu itu saya masuk sekolah favorit di Cimahi. Sebut saja SMPN 1 Cimahi. Dari SD saya hanya lulus 2 orang saja untuk masuk SMP tersebut. SD yang cukup bagus dengan segala fasilitas yang menunjang adalah SDN 2 Cimahi, dan banyak yang masuk ke SMPN 1 CImahi. Pelajaran bahasa inggris adalah pelajaran yang baru saya dapatkan ketika di bangku SMP. Waktu itu saya berpikiran bahwa teman-teman lain sudah mendapatkannya ketika di SD. Karena pikiran tersebut, saya selalu merasa tertinggal untuk pelajaran bahasa inggris. Saya sering merasa vocabulary saya masih sangat sedikit. Ya, bermula dari perasaan-perasaan tersebut. Padahal sebetulnya bisa jadi tidak seperti yang dibayangkan. Toh semua belajar dari tahap awal. Harusnya bisa untuk mengikutinya. Tapi ya begitulah. Meski pelajaran yang lain saya bisa mengikutinya dengan baik, bahkan saya dapat juara 1 di kelas, ehm, tapi saya takluk untuk pelajaran yang satu itu.

Sampai kemudian saat ini saya duduk di bangku master, yang seharusnya sudah cas-cis-cus lancar berbahasa inggris, masih saja tergagap-gagap untuk membacanya apalagi menulis dan berbicara. Maka ketika dosen pembimbing meminta saya untuk banyak membaca jurnal ilmiah internasional sebelum ke lapangan-yang bisa didapat di sciencedirect atau icraf-, saya jadi sedikit lemas. Bukan tidak suka. Tapi bahasa inggrisnya itu. Huh. Yaa, saat ini bukan saat yang tepat untuk mempertanyakan kenapa bahasa internasional itu bahasa inggris..😀

Ketika lulus kuliah saya pernah mengikuti kursus bahasa inggris di UPT Bahasa. Tapi hanya bertahan beberapa kali pertemuan saja. Saya ikut kelas conversation waktu itu. Keberanian juga sepertinya menjadi hal yang sangat penting untuk menunjang keterampilan berbahasa. Ada klub bahasa di Salman yang dibentuk oleh teman-teman. SELF namanya. Self English Forum. Di forum ini kita berdiskusi mengenai suatu topik yang telah ditentukan, dan terkadang menghadirkan native speaker dari mahasiswa asing di kampus. Adan, salah seorang penggiatnya –yang saat ini sedang bekerja di Arab Saudi- memiliki kemampuan bahasa inggris yang baik. Begitu pula dengan Ales dan anak-anak asrama yang lain seperti Chantika, Ghina, Abdur, Julian dan Husni. Terlebih Chantika pernah mengikuti kegiatan ke Korea –nama kegiatannya lupa, terkait budaya kalau tidak salah, dan Julian pernah ke Amerika. Dalam klub SELF tersebut setiap orang diharapkan aktif untuk berbicara dan tidak takut salah. Berani saja, itu kuncinya. Jangan khawatir salah, karena nanti juga akan dikoreksi bersama. Toh ketika berbicara sebetulnya tidak terlalu memerhatikan grammar, asal dapat dimengerti maksudnya, itu sudah cukup.

Satu tips pernah diberikan oleh salah seorang adik asrama. Agar bisa mahir berbahasa inggris adalah sering-seringlah nonton film. Hehe. Katanya itu bisa melatih kita terbiasa untuk mendengarkan bahasa inggris dari orang aslinya. Lebih baik jika film yang berbahasa inggris itu tidak menggunakan teks berbahasa Indonesia, namun teks yang berbahasa inggris  juga. Atau film dorama. Rata-rata teks terjemahannya adalah bahasa inggris. Dan memang adik saya yang suka nonton itu bahasa inggrisnya lumayan. Hmm,, patut dicobakah? Tapi saya bukan sufi euy. Dan tidak tahan berlama-lama menonton film.

Selain itu saya juga salut dengan semakin banyaknya teman-teman dan adik-adik yang melanjutkan sekolah ke luar negeri, yang tentu saja membutuhkan penguasaan bahasa asing yang baik, terutama bahasa inggris. Ah bikin iri saja. Saya juga ingin sekali bisa kesana. Tapi seringkali terganjal dengan urusan bahasa. Sudah keder duluan. Waktu tes seleksi masuk S2 sebetulnya ada tes TOEFL juga atau EPT yang diselenggarakan UPT Bahasa ITB juga bisa digunakan. Hasil skornya ya pas-pasan saja. Selisih 2 poin dengan ketentuan persyaratan minimal😀.

Dan untuk saat ini saya tidak mau neko-neko bisa bahasa asing karena mau sekolah ke luar negeri. Saya hanya ingin diberikan kemudahan dalam membaca, memahami dan mengambil sintesa dari jurnal ilmiah internasional. Saya juga berharap dari hasil penelitian saya ini bisa dipublikasikan skala internasional, setidaknya di ICMNS, aamiin.

Saatnya untuk mencari, mengunduh, membaca, memahami, mensintesa jurnal-jurnal. Belajar kembali berbahasa inggris dengan baik. Semangat ah. Yuuu…


One response to “Berbahasa Inggris

  1. purnaning says:

    sejak kapan sufi suka nonton film wi😀 bahasa itu bisa karena biasa.. wajar lah kalo kita belepotan bahasa inggris karena itu bukan bahasa sehari-hari kita. Bener,lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan kemampuan bahasa kita, apapun bahasanya. Katanya kalo orang bule denger kita ngomong inggris apapun bentuknya, dia pasti sangat menghargai usaha kita untuk berbahasa inggris. Beda sama orang indonesia kebanyakan, orang jawa ngomong sunda diketawain, orang sunda ngomong jawa diketawain, gimana bisa maju kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: