duidays

homesick

on 4 August 2009

Kulangkahkan kaki dengan cepat. Tidak sempat sarapan. Telat.. telat.. Hff.. yes alhamdulillah, baru mau apel. Ya beginilah, jarak dekat tidak menjamin datang tepat atau di awal waktu :p. Tapi lumayan, jadi melatih kecepatan dan kesigapan untuk menempuh jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. He… pembenaran.

Hari ketiga mengajar di SMP IT Baitul Anshor. Meski jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih, guru masih sedikit yang hadir. Sambil menunggu siswa apel di lapangan, saya masuk ke dalam ruang guru. Eits, saya dikagetkan dengan seorang siswa yang sedang cirambai (menangis, red). “Ada apakah gerangan sehingga adinda tampak bermuram durja?” (lebay). Eeh.. dianya makin berlinang air matanya. Waduh waduh. Akhirnya ada guru lain yang menyampaikan bahwa anak tersebut sedang sakit dan rindu ummi nya. Iryan nama siswa tersebut. Ya saya ingat. Dia siswa kelas VII A yang berasal dari Irian, jadi cukup hafal, dari namanya pun sudah terlihat ia berasal dari Papua.

Masih mencoba untuk mendekati Iryan, masuk lagi seorang siswa yang tersedu-sedu. Ada apa lagi ini. Ia masuk sambil memegang perut, sakit perut katanya. Lalu guru lain berkata bahwa ia juga rindu sama ummi nya. What? Baru saja umminya pulang, dan ia menangis ketika umminya pulang, padahal umminya tersebut setiap pagi datang ke sekolah dari Leuwi Panjang sengaja untuk menengok dia. Dan setiap kali pulang, ia suka menangis. Haduh… gemes deh melihat mereka, dua anak lelaki yang menangis karena kangen sama ibunya. Entahlah pengen ketawa sebetulnya dan berkata pada mereka: Please deh, kamu kan anak laki-laki, masa baru berapa minggu aja tinggal di sini nangis kangen sama umi. Udah diem. Hehe… untung otak sadar saya menahannya, dan mengingatkan diri bahwa mereka masih anak kecil, baru lulus SD. Mereka bukan mahasiswa wi! Jadinya yang timbul malah perasaan sedih dan mencoba memahami kerinduan mereka. Aih, menjadi guru SMP ternyata melatih kita untuk menjadi seorang ibu juga ya.

Homesick. Dari tahun-tahun sebelumnya, anak kelas 1 (atau VII) memang seringkali banyak yang merasa tidak betah dan rindu dengan rumah. Masa-masa adaptasi. Di sinilah peran guru dan pendamping asrama untuk membuat mereka betah dan merasakan kebersamaan di sekolah ala ‘boarding school’.  Setelah melewati masa-masa itu, justru banyak yang betah dan pada masa liburan tidak jarang yang menghabiskan waktunya di sekolah.

Oke, apel sudah usai. Saya tinggalkan Iryan dan Aldi. Saatnya masuk kelas VIII A. Bismillah. Ini kali kedua saya mengajar di kelas ini. Semoga lancar. Ternyata menghadapi anak-anak SMP lebih menantang. Banyak pertanyaan sederhana dan kreatif yang malah ga bisa dijawab. Bingung menyampaikan bahasa yang sesuai dengan kapasitas mereka.

Masuk kelas. “Ummi… teman-teman pada sakit, yang ada cuma seginian” Hah? Satu, dua, tiga,,,, 9 orang?? 9 orang dari 24 orang? Ini beneran sakit, apa terkena sakit kangen juga? Aku lihat di buku berita acara kelas, dari hari jum’at anak-anak tersebut memang sudah tidak masuk kelas dengan keterangan sakit. “Ada di asrama atau di rumah?” saya bertanya. ” Di rumah mi…” wah, sekalian muasin kangen sama keluarga di  rumah masing-masing nih. Salah satu keuntungan sakit anak boarding school: bisa pulang😀 .

Tak mengapa, show must go on. Kami tetap belajar meneruskan pembahasan pekan lalu. Lebih enak sih, seperti di bimbel, sedikitan jadi lebih interaktif dan semua anak kebagian ditunjuk dan berbicara. Oya jangan kaget ya. Saya dipanggil ummi di sekolah ini. Hihi lucu ya kayak emak-emak. Awalnya agak geli juga sih. Masak masih single gini dipanggil ummi,,, :p. Ya mungkin karena mereka terbiasa memanggil guru perempuan lain yang sudah lebih senior di sini dengan nama ummi. Meski terkadang saya kagok mengucapkannya. Pernah sesekali membahasakan diri dengan kata  ibu, pernah juga keluar kata teh dwi.. hehe berasa mentoring saja. Maklum masih penyesuaian.

Usai mengajar saya kembali ke ruang guru. Eh, masih ada Iryan dan Aldi. Masih dengan wajah yang sama. Kusut. Tak lama, aku melihat Aldi diizinkan untuk menelpon umminya. Di sini, siswa tidak diperkenankan membawa HP, sehingga jika ada keperluan bisa menggunakan telepon kantor. Wajahnya lebih sumringah ketika berbicara di telepon. Aih… bocah.. bocah. Hm… mungkin suatu saat nanti ketika saya jauh dari rumah dalam jangka waktu yang lama,  saya akan merasakan betapa berartinya rasa rindu. Merasakan kerinduan yang sama. Kerinduan seorang anak kecil pada ibu, bapak dan keluarganya.


2 responses to “homesick

  1. deri says:

    ah,,,saya juga waktu SMP gak gitu,,,lebay bgt anak smp zaman skr,,, saya malah kalo SD bareng adik2 berangkatnyah

    • dpujia says:

      hehe.. anak zaman sekarang emang beda der.. malah karena boarding school, anak2 ga biasa pake kendaraan umum, musti antar jemput🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: