duidays

Mangkuk Cantik, Madu dan Sehelai Rambut

on 18 June 2009

Kisah di bawah ini salah satu ‘harta karun’ yang saya temukan beberapa waktu yang lalu. Sudah cukup lama, namun memberi makna kembali pada saat membacanya. Dari Lembar Khazanah Sabili No.09 Th X. Kisah tentang Mangkuk Cantik, Madu dan Sehelai Rambut.

Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah SAW sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah SAW segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut.

Abu Bakar yang mendapat giliran pertama segera berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah SAW tersenyum, lalu beliau menyuruh Umar untuk mengungkapkan kata-katanya. Umar segera berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Rajanya lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah SAW kembali tersenyum, lalu berpaling kepada Utsman seraya mempersilakannya untuk membuat perbandingan tiga benda di hadapan mereka. Utsman berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Seperti semula, Rasulullah SAW kembali tersenyum kagum mendengar perumpamaan yang disebutkan para sahabatnya. Beliau pun segera mempersilakan Ali bin Abi Thalib untuk mengungkapkan kata-katanya. Ali berkata, “Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah SAW segera mempersilakan Fathimah untuk membuat perbandingan tiga benda di hadapan mereka. Fathimah berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Wanita yang mengenakan purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Setelah mendengarkan perumpamaan dari para sahabatnya, Rasulullah SAW segera berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk beramal lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Beramal dengan perbuatan baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas, lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Allah SWT pun membuat perumpamaan dengan firman-Nya dalam hadits Qudsi, “Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Subhanallah.

Menyelami kehidupan Rasulullah saw memang tak pernah ada habisnya. Selalu saja ada hikmah yang bisa kita petik dari setiap langkah, kata, rasa, pikiran…. semuanya. Semua bagian pribadi Rasulullah senantiasa memberi nilai yang begitu indah dan dalam.  Pun dengan sepenggal kisah di atas.

Bertamu. Siapa di antara kita yang tidak pernah bertamu? Sebagai makhluk sosial tentunya kita pernah (atau bahkan sering) menjalankan aktivitas ini. Anjuran Rasul sendiri bahkan untuk memuliakan tetangga, dan bertamu adalah salah satu cara untuk menjalin kasih sayang dan kepedulian kita terhadap tetangga atau sesama.

Ada yang unik dari bertamunya Rasulullah saw ke rumah Ali. Sebagai murobbi terbaik, Rasulullah senantiasa membina para sahabatnya kapanpun, dimanapun, dengan apapun. Hal yang barangkali kita anggap sepele, mengundang begitu banyak hikmah dalam meningkatkan ilmu, iman dan amal. Dari mangkuk cantik, madu dan sehelai rambut saja, beragam nilai yang bisa diambil.

Cukup menarik jika bisa kita aplikasikan pada saat berkunjung ke rumah saudara atau tetangga. Seperti bagaimana membuat perbandingan antara cangkir, buah mangga dan sendal  (sekedar contoh… kalo mau yang lain juga boleh :)). Namun entahlah barangkali belum terlalu lazim ya kebiasaan untuk membuat perumpamaan di masyarakat kita. Karena yang terjadi terkadang yang dibuat perbandingan adalah rumah si Fulan dengan Fulanah, si itu yang sudah punya mobil, perhiasan anu bagus banget, gosip tetangga, bahas sinetron, artis,,,, ckckc.. masyaAllah.. cem mana ini. Alih-alih bernilai pahala, bertamu malah menjadi arena untuk memakan bangkai saudaranya sendiri (menggunjing). Astaghfirullah. (ya Allah aku berlindung padaMu dari sifat tercela ini).

Mari kita perhatikan aspek yang lain. Rasulullah yang mulia begitu bijak dalam menggali potensi para sahabat dan dalam memberikan pengajaran suatu ilmu. Bisa saja Rasulullah langsung menyampaikan tentang nilai dari perumpamaan mangkuk cantik, madu dan sehelai rambut itu. Namun Rasulullah tidak melakukan itu.  Ia meminta terlebih dahulu opini dari setiap sahabat (dari setiap opini para sahabat itu, kita bisa melihat karakternya masing-masing bukan?) Dan Rasulullah pun menghargai setiap pendapat. Tidak ada yang disanggahnya sampai kemudian Rasul menambahkan sendiri pendapatnya.

Inilah sifat seorang pemimpin yang mengayomi dan demokratis. Ia tidak membunuh karakter yang dipimpinnya untuk hanya mengikuti alur pemikiran yang ia punya. Namun ia menggali potensi setiap orang, menghargainya dan menumbuhkannya bersama-sama menuju satu tujuan.

Subhanallah…

Begitu indahnya hidup bersama Rasulullah. Bahkan Jibril dan Allah swt pun turut serta dalam bagian majelis yang mulia itu.

ada yang mau menambahkan perumpamaannya lagi?


4 responses to “Mangkuk Cantik, Madu dan Sehelai Rambut

  1. Asep says:

    bahasa indah yang digunakan sahabat.
    Wi, apakah dirimu tertarik dengan salah satu perumpamaan di atas
    atau memiliki perumpamaan sendiri? :d

    bila saya :
    Istri sholihah lebih cantik dari mangkuk yang cantik. Iman islam itu lebih manis daripada madu dan berbuat ikhlas lebih sulit dari meniti sehelai rambut…

    • dpujia says:

      baru diedit lagi ni kang tulisannya. ditambah dengan sedikit ulasannya.
      hm,, saya tertarik dengan semua perumpamaannya. cuma ada yang masih mengganjal dari perumpamaannya fatimah ttg purdah..

      perumpamaan yg bagus.
      hm,, poin yg pertama, wah sok atuh der..😀 diantos undanganna.

  2. Asep says:

    ada apa dengan perumpamaan fatimah r.a ttg purdah/cadar wi?
    hmm…point pertama, adakah akhwat yang mau bermula hidup sulit😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: