my path

show me the right path, yaa Rabb

jelang uts

Study - Books and GlassesPekan ketiga Oktober ini, siswa akan menghadapi ujian tengah semester. Hfff.. ga kerasa ya, dan duh masya Allah, beberapa bahan belum tersampaikan. Ada hari yang saya tidak masuk karena sakit, di awal-awal sempat bentrok dengan jadwal kuliah dan terpotong libur. Meski telah memberi tugas, pemahaman siswa bisa dipastikan masih sangat kurang. Beda sama mahasiswa yang bisa mengeksplor pemahaman sendiri secara aktif dan mandiri, siswa SMP masih sangat memerlukan bimbingan guru.

Kalau dulu saya sebagai siswa atau mahasiswa jelang uts panik atau deg-degannya karena belum mengerti materi sepenuhnya atau bahan yang harus dihafal cukup banyak dan merasa belum siap, maka sekarang saya bisa merasakan bahwa pendidik juga sama-sama panik. Panik karena ada bahan yang belum tersampaikan (mudah-mudahan bisa tersampaikan dengan baik pekan besok), siswa yang belum paham, tidak mengerjakan tugas dengan baik (hihi karma)  dan juga belum bikin kisi-kisi soal!

Sekarang ini nih, saya lagi buat kisi-kisi soal, yang harus dikumpulkan besok (!) ke panitia. Awalnya saya mengira jadi guru itu mudah. Ternyata… subhanallah. Angkat topi dah untuk guru-guru yang telah mendidik saya semenjak TK sampe perguruan tinggi. Benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa. Harus all out. Mendidik sepenuh hati dan sepenuh cinta, bukan sekedar transfer materi. Jadi inget Bu Muslimah di Laskar Pelangi. Untung aja sempat nonton filmnya, karna ditayangin di SCTV itu juga :p. So inspiring.

Di awal November juga akan ada supervisi Kepala sekolah. Harus memembuat rincian minggu efektif, program semester, program tahunan, KKM, selain RPP dan silabus yang sudah ada.  Sekolah memang sedang melakukan peningkatan akreditasi. Hal-hal yang kurang atau belum memenuhi standar kompetensi musti dibenahi. Ah, entahlah, saya belum terlalu mengerti.

Hayu atuh der ah kita bikin kisi-kisi soal dan soal. Sudah cukup pemasanannya. Jangan curhat wae. Toh ga kan ada yang bantuin hehe. Ya doain ajalah semoga anak-anaknya saroleh dan bisa menjawab soal dengan baik.

Yihii.. so little time so much to do!!

Bismillahirrohmanirrohim. Ya Allah mudahkan..

Filed under: Pendidikan

keyakinan guru

istock_exploringnature

Keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan.

child-binoculars_36717_1

Aspek-aspek teladan mental guru berdampak besar terhadap iklim belajar dan pemikiran pelajar yang diciptakan guru.

SuperStock_1612R-28176

Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh kuat pada proses belajarnya.

(Caine dan Caine, 1977, h.124, dari Quantum Teaching)

Filed under: Pendidikan

homesick

Kulangkahkan kaki dengan cepat. Tidak sempat sarapan. Telat.. telat.. Hff.. yes alhamdulillah, baru mau apel. Ya beginilah, jarak dekat tidak menjamin datang tepat atau di awal waktu :p. Tapi lumayan, jadi melatih kecepatan dan kesigapan untuk menempuh jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. He… pembenaran.

Hari ketiga mengajar di SMP IT Baitul Anshor. Meski jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih, guru masih sedikit yang hadir. Sambil menunggu siswa apel di lapangan, saya masuk ke dalam ruang guru. Eits, saya dikagetkan dengan seorang siswa yang sedang cirambai (menangis, red). “Ada apakah gerangan sehingga adinda tampak bermuram durja?” (lebay). Eeh.. dianya makin berlinang air matanya. Waduh waduh. Akhirnya ada guru lain yang menyampaikan bahwa anak tersebut sedang sakit dan rindu ummi nya. Iryan nama siswa tersebut. Ya saya ingat. Dia siswa kelas VII A yang berasal dari Irian, jadi cukup hafal, dari namanya pun sudah terlihat ia berasal dari Papua.

Masih mencoba untuk mendekati Iryan, masuk lagi seorang siswa yang tersedu-sedu. Ada apa lagi ini. Ia masuk sambil memegang perut, sakit perut katanya. Lalu guru lain berkata bahwa ia juga rindu sama ummi nya. What? Baru saja umminya pulang, dan ia menangis ketika umminya pulang, padahal umminya tersebut setiap pagi datang ke sekolah dari Leuwi Panjang sengaja untuk menengok dia. Dan setiap kali pulang, ia suka menangis. Haduh… gemes deh melihat mereka, dua anak lelaki yang menangis karena kangen sama ibunya. Entahlah pengen ketawa sebetulnya dan berkata pada mereka: Please deh, kamu kan anak laki-laki, masa baru berapa minggu aja tinggal di sini nangis kangen sama umi. Udah diem. Hehe… untung otak sadar saya menahannya, dan mengingatkan diri bahwa mereka masih anak kecil, baru lulus SD. Mereka bukan mahasiswa wi! Jadinya yang timbul malah perasaan sedih dan mencoba memahami kerinduan mereka. Aih, menjadi guru SMP ternyata melatih kita untuk menjadi seorang ibu juga ya.

Homesick. Dari tahun-tahun sebelumnya, anak kelas 1 (atau VII) memang seringkali banyak yang merasa tidak betah dan rindu dengan rumah. Masa-masa adaptasi. Di sinilah peran guru dan pendamping asrama untuk membuat mereka betah dan merasakan kebersamaan di sekolah ala ‘boarding school’.  Setelah melewati masa-masa itu, justru banyak yang betah dan pada masa liburan tidak jarang yang menghabiskan waktunya di sekolah.

Oke, apel sudah usai. Saya tinggalkan Iryan dan Aldi. Saatnya masuk kelas VIII A. Bismillah. Ini kali kedua saya mengajar di kelas ini. Semoga lancar. Ternyata menghadapi anak-anak SMP lebih menantang. Banyak pertanyaan sederhana dan kreatif yang malah ga bisa dijawab. Bingung menyampaikan bahasa yang sesuai dengan kapasitas mereka.

Masuk kelas. “Ummi… teman-teman pada sakit, yang ada cuma seginian” Hah? Satu, dua, tiga,,,, 9 orang?? 9 orang dari 24 orang? Ini beneran sakit, apa terkena sakit kangen juga? Aku lihat di buku berita acara kelas, dari hari jum’at anak-anak tersebut memang sudah tidak masuk kelas dengan keterangan sakit. “Ada di asrama atau di rumah?” saya bertanya. ” Di rumah mi…” wah, sekalian muasin kangen sama keluarga di  rumah masing-masing nih. Salah satu keuntungan sakit anak boarding school: bisa pulang :D .

Tak mengapa, show must go on. Kami tetap belajar meneruskan pembahasan pekan lalu. Lebih enak sih, seperti di bimbel, sedikitan jadi lebih interaktif dan semua anak kebagian ditunjuk dan berbicara. Oya jangan kaget ya. Saya dipanggil ummi di sekolah ini. Hihi lucu ya kayak emak-emak. Awalnya agak geli juga sih. Masak masih single gini dipanggil ummi,,, :p. Ya mungkin karena mereka terbiasa memanggil guru perempuan lain yang sudah lebih senior di sini dengan nama ummi. Meski terkadang saya kagok mengucapkannya. Pernah sesekali membahasakan diri dengan kata  ibu, pernah juga keluar kata teh dwi.. hehe berasa mentoring saja. Maklum masih penyesuaian.

Usai mengajar saya kembali ke ruang guru. Eh, masih ada Iryan dan Aldi. Masih dengan wajah yang sama. Kusut. Tak lama, aku melihat Aldi diizinkan untuk menelpon umminya. Di sini, siswa tidak diperkenankan membawa HP, sehingga jika ada keperluan bisa menggunakan telepon kantor. Wajahnya lebih sumringah ketika berbicara di telepon. Aih… bocah.. bocah. Hm… mungkin suatu saat nanti ketika saya jauh dari rumah dalam jangka waktu yang lama,  saya akan merasakan betapa berartinya rasa rindu. Merasakan kerinduan yang sama. Kerinduan seorang anak kecil pada ibu, bapak dan keluarganya.

Filed under: Pendidikan

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Today is Yours

Clock