
Pohon, yang tak pernah ingin mengembara,
Yang setia membasuh butir demi butir udara,
Telah jatuh cinta pada angin, yang rumahnya di angkasa,
Yang kepak sayapnya selalu penuh burung gereja
Seandainya pohon ini kita relakan saja
Dalam upacara korban kapak dan gergaji
Di teduh rimbun mana pula kita
Bisa menjelma manusia kembali
(Sapardi Djoko Damono, 1998)
Filed under: Papandayan

Recent Comments