my path

show me the right path, yaa Rabb

Kado

Senang sekali rasanya mendapatkan kado. Iya tak? Di pernikahan saya 8 November 2009 silam, banyak kado yang saya dapatkan dari saudara, teman sekolah, kampus dan rekan kerja, baik dari pihak saya maupun suami.  Bermacam jenis kado kami dapatkan. Mulai dari beragam tea set, alat masak, baju, hiasan dinding, buku, dll, hingga parfum. Setiap kali membuka kado satu demi satu, saya begitu terharu dan benar2 senang, pun ketika membaca untaian kata yang dilampirkan. Seperti membuka kotak-kotak misteri dan menerka-nerka barang apa yang ada di balik setiap bungkusan. Seru! :) . Entahlah barangkali terdengar berlebihan. Wajar lah karena baru kali ini saya mendapatkan kado yang banyak, karena ya saya belum pernah menikah sebelumnya.. hehe.. di setiap momen ultah juga saya tak pernah mendapat kado sebanyak ini.

Kado adalah sebentuk perhatian yang lahir dari rasa cinta dan kasih sayang. Kado pernikahan tak hanya berwujud barang atau materi. Do’a (baik diucapkan langsung, SMS, via fesbuk, milis), bantuan selama persiapan acara, kehadiran pada acara, merupakan bentuk dari kado lain yang juga membahagiakan. Bahkan bentuk-bentuk lain dari kado tersebut menjadi kado yang bernilai tinggi, tak sebanding bila dimaterikan. Betapa banyak persiapan yang ‘manstab’, diringankan dengan bantuan dari teman-teman dekat dan panitia. Doa menjadi kekuatan ketika jelang acara, pada saat acara, dan kehidupan baru setelahnya. Dan kehadiran menyiratkan perhatian di tengah berbagai aktivitas atau kesibukannya.

Pasca pernikahan ini, saya jadi berusaha untuk memerhatikan setiap undangan yang datang. Ketahuilah, pada saat kita mengundang seseorang, kita sangat berharap akan kehadirannya dalam acara. Kalaupun tidak dapat hadir, maka ketika kita menyampaikan ketidakhadiran (karena ada alasan yang dibenarkan) plus do’a, bisa mengobati harapan dari pengundang akan kehadiran kita. Ya, saya jadi berusaha untuk tidak abai terhadap setiap undangan yang datang. Terlebih Rasulullah saw telah mewajibkan kepada kita untuk memenuhi undangan:

“Bila salah seorang diantara kalian diundang (untuk menghadiri walimah), maka hendaklah memenuhi undangan tersebut, baik acara pernikahan atau acara lainnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5173, Muslim no. 1429, Ahmad 2/146, Abu Dawud no. 3738, dan Al-Baihaqi 7/262; dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma]

“Bila salah seorang diantara kalian diundang untuk menghadiri jamuan makan, hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Jika tidak sedang berpuasa hendaklah ia ikut makan. Dan jika sedang berpuasa hendaklah ia ikut mendoakan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1431, Ahmad 2/507, Al-Baghawiy no. 1816, dan Al-Baihaqi 7/263; dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].

Mungkin kita juga sering mendengar kata-kata “Tiada kesan tanpa kehadiranmu”. Atau ” merupakan suatu kebahagiaan bagi kami apabila bapak/ibu/saudara/i berkenan untuk hadir memberikan doa restu”. Kata-kata itu memang benar. Saya sudah merasakannya sendiri. Mudah-mudahan saya bisa untuk memenuhi setiap undangan yang datang. Kalaupun tidak bisa memenuhi undangannya -karena banyak faktor, seperti bentrok dengan agenda lain, ketidakterjangkauan tempat-, mudah-mudahan saya senantiasa ingat untuk memberikan perhatian dengan menyampaikan ketidakhadiran dan mengiringinya dengan doa.*kadang lupa, astaghfirullah :( . Dan pada saat kita menjadi seorang pengundang dan yang kita undang tidak hadir, maka perlu dikedepankan sikap berbaik sangka, karena bisa jadi tidak bisa memenuhi undangan karena ada halangan yang tak bisa dihindarkan.

Tahaddu tahabbu. Saling memberi hadiahlah maka kalian akan saling mengasih (alhadist).

Dalam berbagai momen barangkali kita juga sering mengadakan tukar kado. Tukar kado merupakan variasi lain dalam menguatkan kasih sayang diantara pertemanana atau persahabatan. Setiap kali melihat kado itu, kita jadi akan teringatkan dengan sang pemberinya. Dari hadist Rasulullah di atas, tahaddu tahabbu, rasa kasih sayang itu akan muncul dengan adanya saling memberi hadiah. Seperti semacam efek. Bisa jadi sebelumnya belum ada rasa kasih sayang, lalu untuk mencairkan kebekuan hubungan, saling memberi kado atau hadiah. Niscaya, dengan izin Allah dan ketulusan hati, hubungan akan menjadi lebih baik dan hangat. Jadi menurut saya memberi kado itu bisa ‘dikarenakan’ dan ‘maka’. Memberi kado bisa ‘dikarenakan cinta’ dan ‘maka akan melahirkan kecintaan’.

Ada lagi kado lain yang sangat-sangat membahagiakan bagi saya. Kado terindah yang saya dapatkan. Apakah itu? Ya, saya mendapatkan seorang suami yang baik hati, cinta sesama, patuh pada orang tua dan gemar menabung :D . Seseorang yang menjadi teman seperjuangan untuk meraih keberkahan hidup. Alhamdulillah. Allah swt telah memberikan kado yang istimewa di usia saya yang menginjak seperempat abad. Mudah-mudahan sisa usia saya bersamanya akan mengantarkan pada gerbang kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamin. Kalaulah saling memberi hadiah diantara sesama manusia akan melahirkan kasih sayang, maka ‘kado’ dari Allah swt ini semoga akan semakin meningkatkan rasa cinta saya pada Allah swt. Cinta yang jujur dan sebenar-benarnya. Aamiin ya Robbal ‘alamin. Jadi teringat penggalan nasyidnya Snada (Belajar dari Ibrahim):

Pada Allah mengaku cinta, Walau pada kenyataannya

Pada harta pada dunia, Tunduk seraya menghamba..

Belajar dari Ibrahim, Belajar taqwa kepada Allah

Belajar dari Ibrahim, Belajar untuk mencintai Allah..

Ya Allah karuniakan kepada hamba kekuatan untuk bisa mencintaiMu dengan jujur dan sebenar-benarnya, dan mencintai setiap anugerah dariMu dengan kecintaan yang tidak melenakan, namun dengan kecintaan yang akan semakin meningkatkan kecintaanku padaMu. Aamiin.

NB:

- untuk keluarga, saudara, sahabat, rekan, adik-adik, yang tidak bisa saya sebutkan satu demi satu, jazakumullah khair atas setiap kado (doa, bantuan, materi, perhatian, kehadiran) yang telah diberikan :) . terus doakan kami ya. yang belum mendapatkan kado, insyaAllah akan diberikan pada waktu yang tepat. tetap smangat! :)

- teruntuk suamiku: mokasih yo. jazakallah khair ^^

Ya Allah, terima kasih. Alhamdulillah.

(terbangunkan dan tidak bisa tidur lagi setelah tidur sampe jam 12 malam tadi T_T)

Filed under: Keluarga

FAMILY

(F)ather (A)nd (M)other,,, (I) (L)ove (Y)ou

Filed under: Keluarga

Mengisi Liburan

Libur tlah tiba,, libur tlah tiba,,

hore.. hore.. (Tasya)

Tidak terasa ya sudah memasuki masa liburan panjang. Tadi saja ketika melewati jalan balubur menuju Salman, kendaraan penuhnya minta ampun, padat merayap. Setiap akhir pekan kawasan dago dan sekitarnya memang seringkali diminati oleh para pengunjung, baik dalam maupun luar kota. Akan banyak kita jumpai kendaraan berplat B di daerah tersebut. FO-FO yang bertebaran di sepanjang Dago, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang hobi berbelanja. Terlebih lagi dengan adanya waktu liburan anak sekolah.

Berbagai macam kegiatan bisa kita lakukan untuk mengisi dan memanfaatkan waktu liburan. Bagi para TA’ers (seperti saya) tentunya tidak akan berbingung-bingung mencari agenda yang pas. Penelitian di lab atau lapangan sudah menanti dengan setia :D . Bagi yang ingin menikmati kesegaran udara dengan panorama alam yang menyejukkan, daerah Lembang di Bandung Utara, atau Ciwidey di kawasan Bandung Selatan bisa menjadi pilihan. Bagi yang menyukai permainan dan edukasi, Taman Lalu Lintas atau Kebun Binatang mungkin masih cukup relevan untuk dikunjungi, bila datang bersama keponakan atau putra-putri tercinta :) . Banyak area wisata yang bisa dikunjungi untuk melepas penat dari rutinitas kerja dan belajar. Bergantung dari tujuan yang ingin dicapai dari liburannya tersebut.

Begitu pula halnya dengan kelompok binaan saya. Rihlah akan menjadi salah satu agenda pengisi liburan kami. Ada hal yang menarik ketika kami mendiskusikan waktu yang pas dan memungkinkan bagi semuanya untuk bisa ikut. Maklum, pasca mengikuti SNMPTN barangkali ada agenda-agenda pribadi lainnya yang sudah menanti. Salah seorang dari adikku menyampaikan keberatannya.

“Teh, saya ga bisa tanggal 7, rencananya mau ke cirebon”

“Oh ada apa?”

“Mau mondok sambil nunggu pengumuman kelulusan. Lumayan satu bulan”

“Mondok gimana, dek?”

“Mau mesantren di tempat SMP dulu (AlHikmah Cirebon), pengen mantepin hafalan. Kalo di rumah susah fokusnya”

Adik-adik di kelompokku ini meski masih muda, hafalan Qur’annya sudah banyak.

“5 juz belakang, 5 juz depan. 5 juz yang belakang ngafalnya waktu SD. Dulu ada TPA namanya YBIS yang bikin orang-orang ITB juga da. Trus waktu SMP sampe sekarang 5 juz yang depan.”

Anak yang shalihah…

Lalu adikku yang lain mengusulkan

“Ya udah, abis SNMPTN ke cirebon, trus balik lagi nanti buat rihlah, trus ke cirebon lagi deh.. hehe”

“yee.. asal diongkosin :D . Eh tapi ga tau ding, kan musti cap jari untuk ijazah ya.”

Ngomong-ngomong tentang cap jari, jadi ingat sesuatu..

“Oya, bukannya tanggal 8 teh nyontreng presiden ya. Brarti berangkatnya setelah itu aja :) .”

“Oiyayaya… haha lupa. Iya abis nyontreng aja.”

Selesai. Mudah-mudahan yang tidak hadir hari itu bisa ikut rihlah di waktu yang sudah ditentukan.

Subhanallah. Ada yang kucatat diam-diam dari diskusi bersama adik-adikku tersebut. Di tengah berbagai berita yang seringkali kurang mengenakkan mengenai pergaulan dan aktivitas remaja, rasa-rasanya seperti mendapat kesejukan yang luar biasa tatkala mendengar rencana liburan salah seorang adikku tersebut untuk memantapkan hafalan Qur’annya.

Subhanallah. Orang tua macam apa yang telah membina anaknya menjadi sedemikan dekat dengan Al-Qur’an, hingga di salah satu fase rawan bagi pertumbuhan seorang manusia dewasa, ia tetap memegang erat nilai-nilai ilahiah dalam dirinya. Orang tua, terutama ibu memang memegang andil yang begitu besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Ketika sejak kecil seorang anak didekatkan dengan nilai-nilai Quraniyah, maka kelak ketika ia tumbuh besar, Qur’anlah yang akan menjaga ia, membentengi ia dari segala godaan dunia.

Ayah adikku tersebut seorang ustadz yang cukup dikenal di daerah Bandung dan tahun ini baru dilantik menjadi aleg (DPRD kalau tidak salah) dari salah satu partai. Barangkali keikhlasannya dalam berjuang dan berdakwah juga telah membawa keberkahan dalam kehidupan keluarganya.

Jadi, mau seperti apa anak kita, bercerminlah pada diri kita. Apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut amanah dari Allah swt tersebut kelak?

^_^

Oiya, kembali lagi ke tema. Seperti apapun kita mengisi liburan kali ini, semoga membawa kemanfaatan yang besar bagi diri kita. Apalagi kita sudah berada di bulan Rajab. Kurang dari 2 bulan lagi kita akan kedatangan tamu mulia, bulan Ramadhan. Agenda-agenda Quraniyah seperti belajar memantapkan bacaan Al-Qur’an (tahsin) atau menghafal Al-Qur’an (tahfidz) menjadi alternatif yang sangat baik untuk kita pilih, di samping agenda-agenda liburan lainnya.

Have a nice holiday :D

Filed under: Keluarga

Calendar

December 2009
M T W T F S S
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Today is Yours

Clock