Bukan tema asing memang, namun ada saja hal-hal yang mengundang perhatian untuk direnungkan dan didiskusikan. Setidaknya untuk saya pribadi saat ini.
Setiap sisi kehidupan perempuan memang memiliki daya tarik dan seringkali menjadi sorotan. Bukan hanya karena cantik dan menarik (^^), namun karena potensinya yang ternyata sangat besar untuk ikut serta dalam membangun peradaban manusia. Dan poin yang terakhirlah yang sesungguhnya menjadi penentu nilai seorang perempuan. Itulah mengapa ada istilah yang menyatakan bahwa ‘perempuan adalah tiang negara’ atau ‘di balik setiap pahlawan besar selalu ada seorang perempuan agung’. Dan perempuan agung itu -kata Anis Matta- bisa satu dari dua, atau dua-duanya sekaligus; sang ibu dan atau sang istri.
Setiap perempuan diberikan kebebasan untuk menentukan perannya sendiri dalam menunaikan tugasnya. Namun demikian kebebasan seorang perempuan muslimah memiliki ikatan yang kuat terhadap perjanjiannya dengan Tuhannya -asy-syahadatain-. Dengan demikian tatkala seorang perempuan memutuskan untuk mengambil sebuah peran, maka sudah seharusnya ia meyakinkan dirinya bahwa peran yang akan diambilnya itu sejalan dengan fitrah penciptaan terhadap dirinya. Tatkala fitrah penciptaan ditegakkan dalam kehidupannya maka keseimbangan alam ini pun akan terwujud, dan perempuan akan menjadi dimuliakan karenanya.
Lalu muncul pertanyaan, apa sebenarnya fitrah penciptaan yang diberikan kepada seorang perempuan untuk berperan? Peran apa yang harus diambilnya? Mengapa ada perempuan yang tidak bahagia ketika mengambil peran yang dipilihnya, sedang di sisi lain ada perempuan yang begitu bahagia menjalaninya?
Filed under: Perempuan
ato kadang banyak perempuan masih belum dan (mungkin) belum sadar akan perannya? kata orang emank peran perempuan sangat tinggi, tapi istilah “tinggi” ini seakan2 disalahmengertikan oleh kebanyakan perempuan, jadi malah “merendahkan” nilai peran dirinya.. heu
wallahualam
bisa jadi, pai. ditambah dengan kondisi dunia yg katanya makin flat, turut pula ‘memformulasi’ peran perempuan abad modern.
sip teh, jadi menteri emansipasi dan peranan wanita ajah,, awa dukung,, ntar suami jadi menteri esdm,, hha
wiih,, pai bawa2 suami nih. *secara belum ada
hm, bolehlah nanti diusulkan -pada waktu yang tepat-,,,, hha
nah teh, sekarang bawa2 suami gpp kan, hhe.. udah disaat waktu yang tepat,hihi
perempuan yang bahagia dengan peran yang dipilihnya, serta merta dia menjadi begitu cantik
subhanallah.. konklusinya bagus.
berarti kuncinya adlah bahagia. dan bahagia itu tidak bisa dipaksakan,,,
namun ia dapat diupayakan. begitukah?
*pantesan liat ly akhir2 ini keliatan lebih cantik ^^
deuh, abis married tentu lebih banyak inspirasi n bahan menulis nih
diantos lho