my path

show me the right path, yaa Rabb

Mengisi Liburan

Libur tlah tiba,, libur tlah tiba,,

hore.. hore.. (Tasya)

Tidak terasa ya sudah memasuki masa liburan panjang. Tadi saja ketika melewati jalan balubur menuju Salman, kendaraan penuhnya minta ampun, padat merayap. Setiap akhir pekan kawasan dago dan sekitarnya memang seringkali diminati oleh para pengunjung, baik dalam maupun luar kota. Akan banyak kita jumpai kendaraan berplat B di daerah tersebut. FO-FO yang bertebaran di sepanjang Dago, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang hobi berbelanja. Terlebih lagi dengan adanya waktu liburan anak sekolah.

Berbagai macam kegiatan bisa kita lakukan untuk mengisi dan memanfaatkan waktu liburan. Bagi para TA’ers (seperti saya) tentunya tidak akan berbingung-bingung mencari agenda yang pas. Penelitian di lab atau lapangan sudah menanti dengan setia :D . Bagi yang ingin menikmati kesegaran udara dengan panorama alam yang menyejukkan, daerah Lembang di Bandung Utara, atau Ciwidey di kawasan Bandung Selatan bisa menjadi pilihan. Bagi yang menyukai permainan dan edukasi, Taman Lalu Lintas atau Kebun Binatang mungkin masih cukup relevan untuk dikunjungi, bila datang bersama keponakan atau putra-putri tercinta :) . Banyak area wisata yang bisa dikunjungi untuk melepas penat dari rutinitas kerja dan belajar. Bergantung dari tujuan yang ingin dicapai dari liburannya tersebut.

Begitu pula halnya dengan kelompok binaan saya. Rihlah akan menjadi salah satu agenda pengisi liburan kami. Ada hal yang menarik ketika kami mendiskusikan waktu yang pas dan memungkinkan bagi semuanya untuk bisa ikut. Maklum, pasca mengikuti SNMPTN barangkali ada agenda-agenda pribadi lainnya yang sudah menanti. Salah seorang dari adikku menyampaikan keberatannya.

“Teh, saya ga bisa tanggal 7, rencananya mau ke cirebon”

“Oh ada apa?”

“Mau mondok sambil nunggu pengumuman kelulusan. Lumayan satu bulan”

“Mondok gimana, dek?”

“Mau mesantren di tempat SMP dulu (AlHikmah Cirebon), pengen mantepin hafalan. Kalo di rumah susah fokusnya”

Adik-adik di kelompokku ini meski masih muda, hafalan Qur’annya sudah banyak.

“5 juz belakang, 5 juz depan. 5 juz yang belakang ngafalnya waktu SD. Dulu ada TPA namanya YBIS yang bikin orang-orang ITB juga da. Trus waktu SMP sampe sekarang 5 juz yang depan.”

Anak yang shalihah…

Lalu adikku yang lain mengusulkan

“Ya udah, abis SNMPTN ke cirebon, trus balik lagi nanti buat rihlah, trus ke cirebon lagi deh.. hehe”

“yee.. asal diongkosin :D . Eh tapi ga tau ding, kan musti cap jari untuk ijazah ya.”

Ngomong-ngomong tentang cap jari, jadi ingat sesuatu..

“Oya, bukannya tanggal 8 teh nyontreng presiden ya. Brarti berangkatnya setelah itu aja :) .”

“Oiyayaya… haha lupa. Iya abis nyontreng aja.”

Selesai. Mudah-mudahan yang tidak hadir hari itu bisa ikut rihlah di waktu yang sudah ditentukan.

Subhanallah. Ada yang kucatat diam-diam dari diskusi bersama adik-adikku tersebut. Di tengah berbagai berita yang seringkali kurang mengenakkan mengenai pergaulan dan aktivitas remaja, rasa-rasanya seperti mendapat kesejukan yang luar biasa tatkala mendengar rencana liburan salah seorang adikku tersebut untuk memantapkan hafalan Qur’annya.

Subhanallah. Orang tua macam apa yang telah membina anaknya menjadi sedemikan dekat dengan Al-Qur’an, hingga di salah satu fase rawan bagi pertumbuhan seorang manusia dewasa, ia tetap memegang erat nilai-nilai ilahiah dalam dirinya. Orang tua, terutama ibu memang memegang andil yang begitu besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Ketika sejak kecil seorang anak didekatkan dengan nilai-nilai Quraniyah, maka kelak ketika ia tumbuh besar, Qur’anlah yang akan menjaga ia, membentengi ia dari segala godaan dunia.

Ayah adikku tersebut seorang ustadz yang cukup dikenal di daerah Bandung dan tahun ini baru dilantik menjadi aleg (DPRD kalau tidak salah) dari salah satu partai. Barangkali keikhlasannya dalam berjuang dan berdakwah juga telah membawa keberkahan dalam kehidupan keluarganya.

Jadi, mau seperti apa anak kita, bercerminlah pada diri kita. Apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut amanah dari Allah swt tersebut kelak?

^_^

Oiya, kembali lagi ke tema. Seperti apapun kita mengisi liburan kali ini, semoga membawa kemanfaatan yang besar bagi diri kita. Apalagi kita sudah berada di bulan Rajab. Kurang dari 2 bulan lagi kita akan kedatangan tamu mulia, bulan Ramadhan. Agenda-agenda Quraniyah seperti belajar memantapkan bacaan Al-Qur’an (tahsin) atau menghafal Al-Qur’an (tahfidz) menjadi alternatif yang sangat baik untuk kita pilih, di samping agenda-agenda liburan lainnya.

Have a nice holiday :D

Filed under: Keluarga

Sempurnakan Cahaya Kami

Sebuah taushiyah di awal Bulan Rajab 1429. Dipilih dari situs eramuslim.com, percikan hikmah Ust. Ihsan Tandjung dengan judul Amal Perbuatan yang Memudahkan Mukmin Menyeberangi Jembatan Neraka.

——-

Sebagaimana sudah kita ketahui setiap Ahli Tauhid sebelum berhak mencapai pintu gerbang surga diharuskan melewati ujian berat yaitu menyeberangi jembatan yang membentang di atas Neraka Jahannam. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam melukiskan jembatan itu sebagai lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. Ada mereka yang sukses menyeberanginya, ada yang sukses namun terluka kena sabetan duri-duri dan besi-besi kait yang merobek sebagian anggota tubuhnya sementara ada yang gagal sehingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya terlebih dahulu masuk ke dalam api menyala-nyala Neraka Jahannam.

“Dan Neraka Jahannam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di atasnya ada besi-besi yang berpengait dan duri-duri yang mengambil siapa saja yang dikehendaki Allah. Dan manusia di atas jembatan itu ada yang (melintas) laksana kedipan mata, ada yang laksana kilat dan ada yang laksana angin, ada yang laksana kuda yang berlari kencang dan ada yang laksana onta berjalan. Dan para malaikat berkata: ”Rabbi sallim. Rabbi sallim.” ( ”Ya Allah, selamatkanlah. Selamatkanlah.”)  Maka ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik lalu diselamatkan dan juga ada yang digulung dalam neraka di atas wajahnya.” (HR Ahmad 23649)

Setiap orang yang mengaku beriman sudah barang tentu berharap dirinya masuk ke dalam golongan mereka yang selamat menyeberanginya sehingga berhak masuk Surga dan dijauhkan dari azab api neraka. Namun pertanyaannya ialah bagaimana hal itu bisa tercapai? Apa syarat-syarat agar seorang Mukmin berhak menikmati kesuksesan tersebut? Sebenarnya dalam hadits lain Nabi shollallahu ’alaih wa sallam telah mengisyaratkan sebagian jawabannya.

“Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq. Bila mereka telah berada di tengah jembatan, Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.” (QS Al-Hadid ayat 13) Dan berdoalah orang-orang beriman: ”Ya Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”(QS At-Tahrim ayat 8)  Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain.” (HR Thabrani 11079)

Di antara solusinya ialah seorang mukmin mesti mengupayakan agar dirinya kelak memiliki cukup cahaya agar mampu menyeberangi kegelapan dan panasnya neraka. Sebab pada saat akan menyeberangi jembatan tersebut setiap orang dibekali Allah cahaya agar mampu melihat jalan yang sedang ditelusurinya di atas jembatan tersebut. Dan bila ia termasuk mukmin sejati cahaya yang diterimanya itu akan setia menemani dan menyinari dirinya sepanjang penyeberangan itu hingga sampai ke ujung menjelang pintu surga. Namun jika ia termasuk orang yang imannya bermasalah lantaran begitu banyak dosanya, apalagi kalau ia termasuk orang munafik, maka di tengah perjalanan menyeberangi jembatan Allah tiba-tiba padamkan cahaya yang menemaninya sehingga ia dibiarkan dalam kegelapan dan akibatnya ia menjadi tersesat dan terjatuh ke dalam api neraka.

Begitu cahaya orang-orang munafik itu mendadak dipadamkan Allah, maka mereka akan berteriak panik dan memohon kepada orang-orang beriman sejati agar dibagi sebagian cahaya yang setia menemani mukmin sejati itu. Sungguh gambaran mengerikan yang dengan jelas diuraikan Allah di dalam ayat-ayat berikut ini:

”Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak, (yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mu’min laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mu’min) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” (QS Al-Hadid ayat 11-15)

Lalu apakah amal perbuatan yang akan menyebabkan seorang mukmin memiliki cukup cahaya untuk sukses menyeberangi jembatan itu? Ternyata, di antaranya ialah kesungguhan seorang mukmin untuk bertaubat dari dosa-dosa yang selama ini dia kerjakan. Inilah yang disebut dengan aktifitas Taubatan Nasuhan (Taubat Yang Murni). Taubatan Nasuha inilah yang akan menyebebkan seorang mukmin memperoleh cahaya yang disempurnakan untuk sukses menyeberangi jambatan Neraka. Bukan taubat musiman alias taubat yang tidak menyebabkan seseorang benar-benar meninggalkan perbuatan dosa yang dilakukannya. Perhatikanlah ayat Allah berikut ini:

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan Taubatan Nasuhan (taubat yang semurni-murninya), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. <QS At-Tahrim ayat 8>

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, beliau bersabda: ”Shirath itu setajam pedang dan sangat menggelincirkan.” Beliau melanjutkan: ”Lalu mereka melintas sesuai dengan cahaya yang mereka miliki. Maka di antara mereka ada yang melintas secepat meteor,  ada pula yang melintas secepat kedipan mata, ada pula yang melintas secepat angin, ada pula yang melintas seperti orang berlari, dan ada pula yang berjalan dengan cepat. Mereka melintas sesuai amal perbuatan mereka, hingga tibalah saat orang yang cahayanya ada di jari jempol kedua kakinya melintas, satu tangannya jatuh, dan satu tangannya lagi menggantung, satu kakinya jatuh dan satu kakinya lagi menggantung, kedua sisinya terkena api neraka.”

Kedua, seorang Mukmin akan dijamin memiliki cukup cahaya saat menyeberangi jembatan di atas Neraka jika ia rajin berjalan ke masjid dalam kegelapan untuk menegakkan sholat wajibnya semata ingin meraih keridhaan Allah. Nabi bersabda:

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan menuju masjid-masjid dalam kegelapan dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR Ibnu Majah 773)

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam seringkali ketika berjalan menuju ke masjid berdoa dengan doa sebagai berikut:

“Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hatiku, dalam penglihatanku, dalam pendengaranku, di sebelah kananku, di sebelah kiriku, di sebelah atasku, di sebelah bawahku, di depanku, di belakangku dan jadikanlah aku bercahaya.” (HR Bukhary 5841)

Ketiga, seorang Mukmin akan sukses menyeberangi jembatan neraka bila ia melindungi sesama mukmin dari kejahatan orang Munafik. Dan sebaliknya barangsiapa yang mengucapkan perkataan buruk untuk mencemarkan seorang Muslim, maka Allah akan menghukumnya dalam bentuk ia ditahan di atas jembatan neraka hingga dosa ucapannya menjadi bersih.

“Barangsiapa melindungi seorang Mukmin dari kejahatan orang Munafik, Allah akan mengutus malaikat untuk melindungi daging orang itu –pada hari Kiamat- dari neraka jahannam. Barangsiapa menuduh seorang Muslim dengan tujuan ingin mencemarkannya, maka Allah akan menahannya di atas jembatan neraka jahannam hingga orang itu dibersihkan dari dosa perkataan buruknya.” (HR Abu Dawud 4239)

Saudaraku, sungguh kita semua sangat membutuhkan cahaya yang mencukupi untuk menyeberangi jembatan neraka dengan selamat. Semoga Allah masukkan kita bersama ke dalam golongan Mukmin sejati. Semoga Allah bersihkan hati kita bersama dari penyakit kemunafikan. Sebab kemunafikan akan menyebabkan cahaya seseorang tiba-tiba padam saat menyeberangi jembatan neraka sehingga ia menjadi  tergelincir lalu jatuh ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Na’udzubillahi min dzalika…!

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, dan ‘amal perbuatan kami dari riya dan lisan kami dari dusta serta pandangan mata kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu khianat pandangan mata dan apa yang disembunyikan hati.

——-

Astaghfirullah hal ‘adzim.. Robbanaa atmim lanaa nuuronaa waghfirlanaa..

Semoga Allah swt memberkahi kita di bulan Rajab dan Sya’ban dan menyampaikan kita pada bulan Ramadhan. Dan semoga Allah swt menyempurnakan untuk kita cahaya kita di saat hari yang mendebarkan, di saat mata terbelalak, di saat semua amal dipertanggungjawabkan, di saat kaki meniti jembatan penentuan.

(Renungan di malam jelang 25)


Filed under: Nasihat

Mangkuk Cantik, Madu dan Sehelai Rambut

Kisah di bawah ini salah satu ‘harta karun’ yang saya temukan beberapa waktu yang lalu. Sudah cukup lama, namun memberi makna kembali pada saat membacanya. Dari Lembar Khazanah Sabili No.09 Th X. Kisah tentang Mangkuk Cantik, Madu dan Sehelai Rambut.

Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah SAW sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah SAW segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut.

Abu Bakar yang mendapat giliran pertama segera berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah SAW tersenyum, lalu beliau menyuruh Umar untuk mengungkapkan kata-katanya. Umar segera berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Rajanya lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah SAW kembali tersenyum, lalu berpaling kepada Utsman seraya mempersilakannya untuk membuat perbandingan tiga benda di hadapan mereka. Utsman berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan beramal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Seperti semula, Rasulullah SAW kembali tersenyum kagum mendengar perumpamaan yang disebutkan para sahabatnya. Beliau pun segera mempersilakan Ali bin Abi Thalib untuk mengungkapkan kata-katanya. Ali berkata, “Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah SAW segera mempersilakan Fathimah untuk membuat perbandingan tiga benda di hadapan mereka. Fathimah berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Wanita yang mengenakan purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Setelah mendengarkan perumpamaan dari para sahabatnya, Rasulullah SAW segera berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk beramal lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini. Beramal dengan perbuatan baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat amal dengan ikhlas, lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Allah SWT pun membuat perumpamaan dengan firman-Nya dalam hadits Qudsi, “Surga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surga-Ku lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Subhanallah.

Menyelami kehidupan Rasulullah saw memang tak pernah ada habisnya. Selalu saja ada hikmah yang bisa kita petik dari setiap langkah, kata, rasa, pikiran…. semuanya. Semua bagian pribadi Rasulullah senantiasa memberi nilai yang begitu indah dan dalam.  Pun dengan sepenggal kisah di atas.

Bertamu. Siapa di antara kita yang tidak pernah bertamu? Sebagai makhluk sosial tentunya kita pernah (atau bahkan sering) menjalankan aktivitas ini. Anjuran Rasul sendiri bahkan untuk memuliakan tetangga, dan bertamu adalah salah satu cara untuk menjalin kasih sayang dan kepedulian kita terhadap tetangga atau sesama.

Ada yang unik dari bertamunya Rasulullah saw ke rumah Ali. Sebagai murobbi terbaik, Rasulullah senantiasa membina para sahabatnya kapanpun, dimanapun, dengan apapun. Hal yang barangkali kita anggap sepele, mengundang begitu banyak hikmah dalam meningkatkan ilmu, iman dan amal. Dari mangkuk cantik, madu dan sehelai rambut saja, beragam nilai yang bisa diambil.

Cukup menarik jika bisa kita aplikasikan pada saat berkunjung ke rumah saudara atau tetangga. Seperti bagaimana membuat perbandingan antara cangkir, buah mangga dan sendal  (sekedar contoh… kalo mau yang lain juga boleh :) ). Namun entahlah barangkali belum terlalu lazim ya kebiasaan untuk membuat perumpamaan di masyarakat kita. Karena yang terjadi terkadang yang dibuat perbandingan adalah rumah si Fulan dengan Fulanah, si itu yang sudah punya mobil, perhiasan anu bagus banget, gosip tetangga, bahas sinetron, artis,,,, ckckc.. masyaAllah.. cem mana ini. Alih-alih bernilai pahala, bertamu malah menjadi arena untuk memakan bangkai saudaranya sendiri (menggunjing). Astaghfirullah. (ya Allah aku berlindung padaMu dari sifat tercela ini).

Mari kita perhatikan aspek yang lain. Rasulullah yang mulia begitu bijak dalam menggali potensi para sahabat dan dalam memberikan pengajaran suatu ilmu. Bisa saja Rasulullah langsung menyampaikan tentang nilai dari perumpamaan mangkuk cantik, madu dan sehelai rambut itu. Namun Rasulullah tidak melakukan itu.  Ia meminta terlebih dahulu opini dari setiap sahabat (dari setiap opini para sahabat itu, kita bisa melihat karakternya masing-masing bukan?) Dan Rasulullah pun menghargai setiap pendapat. Tidak ada yang disanggahnya sampai kemudian Rasul menambahkan sendiri pendapatnya.

Inilah sifat seorang pemimpin yang mengayomi dan demokratis. Ia tidak membunuh karakter yang dipimpinnya untuk hanya mengikuti alur pemikiran yang ia punya. Namun ia menggali potensi setiap orang, menghargainya dan menumbuhkannya bersama-sama menuju satu tujuan.

Subhanallah…

Begitu indahnya hidup bersama Rasulullah. Bahkan Jibril dan Allah swt pun turut serta dalam bagian majelis yang mulia itu.

ada yang mau menambahkan perumpamaannya lagi?

Filed under: Nasihat

Calendar

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Today is Yours

Clock