Feeds:
Posts
Comments

cool, isn’t he?

versantus

Hey, he is my husband!

cool, isn’t he?

heuheu… peace ah!

Dapet artikel bagus dari group Jadikan Facebook Bermanfaat untuk Dunia Akhiratmu.

Malam hari di sebuah pasar, ratusan pria dan wanita melupakan selimutnya, melupakan sisa mimpinya, melupakan juga konsentrasinya yang terkadang masih belum 100% agar transaksi malam itu tidak keliru. Mereka seperti lupa bahwa setelah dari pasar mereka harus mengelilingi komplek perumahan sekaitarnya, sehingga kita dapat merasakan ikan dan sayuran segar untuk sarapan keluarga.

Malam masih larut, udara masih dingin saat semua orang semakin terlelap dengan tidurnya dua anak muda sudah merambat melintasi sabana terakhir untuk kemudian merayap pada jurang terakhir agar sampai di puncak Gunung Merbabu. Dengan peluh kesenangan, memanggul beban berat tas punggung dengan peralatan canggih fotografi, secukupnya ransum dan peralatan khas pendaki. Tidak peduli gelap atau angkernya gossip yang menyelimuti gunung tersebut. Semua itu rela mereka lakukan demi sebuah momentum yang disebut matahari terbit!. Sun rise…

Malam yang sama di belahan kota lain. Beberapa anak muda juga terbangun dan bersiap. Sama-sama bermandikan peluh dan air mata. Bedanya mereka hanya berbekalkan sajadah dan kitab, mereka memanfaatkan waktu sepertiga malam sebagai bagian dari rutinitas sebelum pagi datang menjelang.

Mengapa pagi begitu istimewa terlebih lagi dini hari?, semua orang enggan menyia-nyiakan dini hari dan pagi hari karena saat itu konsentrasi masih penuh dan tenaga masih prima. Tapi bagi orang yang beriman pagi hari memiliki arti lebih. Itulah waktu yang tepat untuk sholat di saat semua orang tertidur, karena pada waktu itu mustajab doa.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: يَنْزِلُ اللهُ اِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَمْضِى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلاَوَّلُ فَيَقُوْلُ: اَنَا اْلمَلِكُ. اَنَا اْلمَلِكُ، مَنْ ذَا الَّذِى يَدْعُوْنِى فَاَسْتَجِيْبَ لَهُ، مَنْ ذَا الَّذِى يَسْأَلُنِى فَاُعْطِيَهُ، مَنْ ذَا الَّذِى يَسْتَغْفِرُنِى فَاَغْفِرَ لَهُ. فَلاَ يَزَالُ كَذلِكَ حَتَّى يُضِيْءَ اْلفَجْرُ. مسلم

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Allah turun ke langit dunia ketika telah berlalu sepertiga malam yang awal. Allah berfirman, “Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang berdoa kepadaku, Aku akan mengabulkannya, siapa yang meminta kepada-Ku, aku akan memberinya, dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, maka aku akan mengampuninya”. Terus-menerus demikian itu sehingga terbit fajar”. [HR. Muslim 1 : 522]

Bila diibaratkan orang yang terbiasa beraktivitas lebih pagi adalah orang-orang yang siap menjadi pemenang karena sewaktu peserta lain masih terlelap dia sudah terbangun.

Continue Reading »

ketika aku sakit

ceritanya senin kemarin harusnya aku ke bandung. namun mendadak perut ini sakit sekali. pagi-pagi dikerok sama suami, kalau dulu biasanya sama ibu tercinta. aku menyangka kalau sakit masuk angin, penyakit kumatan dari dulu, ternyata ga merah. ya sudahlah aku istirahat dulu saja, ga jadi ke bandung, padahal besoknya ngajar.

lalu siangnya aku mandi pake air dingin. widih sorenya perut makin menjadi2. masya Allah sakiiit sekali. sangat-sangat melilit. ketika suami pulang dari kantor, aku masih tergolepak tak berdaya di atas kasur. suami pulang dalam keadaan basah, kehujanan. sore itu hujan memang mengguyur deras indramayu. tak ada makanan, adanya makanan yang dibeli pagi sebelumnya, karena aku tak kuasa untuk masak. maafkan aku suamiku.

sebelum maghrib aku makan roti. suamiku mencari-cari roti tawar di beberapa warung, namun rupanya tidak ada yang menjual roti tawar di sini, ga laku kalo dijual disini mah, kata beberapa penjual. jadilah ia membawakanku roti yang 1000-an 3 buah plus mentega, messes, gula, teh sariwangi, dan biskuit roma kelapa.  sebetulnya kalo ga ada roti tawar ga perlu beli mentega dan messes juga. tapi  ia tetap membelikannya, buat persediaan.

ia kemudian mengajak aku untuk diperiksa ke UGD. tapi males ah, aku ga mau diperiksa. suamiku yang ga pernah marah itu jadi sedikit berceramah kalau aku seringkali tidak disiplin ketika makan. “heran deh, kok bisa makan aja males” katanya, kurang lebih seperti itu. ia berpura-pura marah,, heuheu tetep weh lucu aja ngeliatnya. tadinya aku mengira kalau ini gejala thypus. tapi suamiku mendiagnosa kalau ini adalah sakit maag kronis. “ini recoverynya minimal satu tahun. yayang harus makan sehari 3 kali. ga boleh engga. ini perintah suami”. wedew, meuni ngancam :p. dan perutku kembali melililit, tepat di ulu hati.

suamiku dengan kesabarannya mengambilkan air minum. “mau ga pake cara ekstrim? dulu fani pernah sakit maag. minum air yang banyak, trus dimuntahkan semua isi dalam perut. asam lambungnya akan keluar semua, jadi ga akan kerasa sakit lagi. cuma setelahnya akan lemes. mau ga?” heuheu tentu saja aku tak mau. hoek. ngemuntahin seluruh isi lambung? hii..

adzan isya sudah berkumandang. suamiku di masjid sejak shalat maghrib tadi. sekalian di masjid sampe shalat isya. ketika suami pulang, aku masih menggunakan mukena dan terbaring di kasur dengan kondisi belum shalat isya. huaa, sakiiit. akhirnya aku dibelikan promag. lumayanlah, tapi tetep weh masih sakit. lalu ia menawariku air minum kembali. “ga mau ah, nanti pipis terus” kataku. jadi kembung nih perut. “yayang mau pipis lagi atau mau terus ngerasa sakit? terserah yayang itu mah” wiih, galak ih. ya udah deh minum lagee.

isya, tak kuasa berdiri aku shalat sambil duduk. suamiku sudah terbaring tidur. kecapean. ia memang cepat tidur, lelah bekerja seharian. setelah shalat, aku siap-siap untuk istirahat. tapi ouugh,, perut ini masih belum juga bisa diajak kompromi. sesekali ia kumat melilit. aku membayangkan ada segerombolan cacing yang menggigit2 ususku. uugh. dramatis sekali. karena ga kuat, aku minta dikerok lagi. cara yang sangat tradisional tapi cukup ampuh bagiku.

ternyata eh ternyata, meraaah banget hasil kerokannya. terbukti dah masuk angin yang berkolaborasi dengan maag. heuheu. mungkin akibat mandi pake air dingin setelah kerokan di siang hari sebelumnya. ketika dikerok kan pori-pori kita membuka, disiram pake air dingin, hmm… ya iyalah..

setelah itu tidurku jadi lebih pulas. meski sesekali tetap terbangunkan di malam hari. sayangnya aku terbangunkan di malam hari bukan karena tendangan-tendangan kecil di dalam perutku (ngarep.com), tapi karena lambungku yang masih beraksi. ah, dia tidak mengerti jam tidur.

suamiku yang sabar dan perhatian membuatku makin terharu. paginya ia membelikanku bubur dan beberapa makanan tambahan. plus bahan untuk membuat sayur  (yang tak bisa kumasak, karena tak kuasa). setelah ia berangkat ke kantor, aku istirahat lagi dan terbangunkan sekitar 45 menit kemudian. ternyata suamiku datang lagi dengan membawakanku 2 bungkus roti tawar, 2 kue marie regal dan 1 coklat silverqueen. ya ampun, ia menyempatkan diri nyimpang ke alfa mart setelah ke kantor (entah alfa mart yang mana, karena lokasinya cukup jauh dari rumah)  lalu balik lagi dengan membawakanku beberapa persediaan ransum.

suamiku baik ya..

*curhat dikit boleh kan? blog sendiri ini ^_*

dan sekarang aku kebingungan untuk menghabiskan makanan yang manis2 itu…

LiLlah

Ada yang mengeluh merasa jenuh..

ingin gugur dan jatuh..

lalu ia berkata ‘lelah’.

Ada yang lelah tubuhnya penat..

tapi semangatnya kuat..

dan ia berkata ‘liLlah’.

(quote from someone)

Mendapat artikel dari seorang sahabat, yang dikopas dari Dakwatuna.com. Membacanya.. subhanallah, jadi diingatkan kembali mengenai hakikat cinta yang sebenarnya. Sangat inspiring dan menggugah.

———–

Aku Mencintaimu dan Mendukungmu

oleh: Dra. Anis Byarwati, MSi.

Ekspresi cinta bisa bermacam-macam. Bagaimana dengan ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah? Menjadi aktifis, saya rasa tidak berarti kehilangan ekspresi dalam mencintai pasangan. Bahkan menurut saya, ekspresi cinta pasangan aktifis dakwah itu unik, karena juga harus punya pengaruh positif untuk dakwah. Lho, kok bisa begitu? Apa hubungannya ekspresi kita dalam mencintai pasangan dengan dakwah?

Berbicara soal cinta mencintai, saya terkesan dengan filosofi cinta yang dimiliki ibu saya. Filosofi beliau ini saya ‘tangkap’ secara tak sengaja ketika beliau sedang ‘menceramahi’ adik bungsu saya yang laki-laki yang sedang kasmaran. Cerita sedikit, begini kira-kira sebagian kecil isi ceramah ibu saya… “Kalau kamu mencintai seseorang malah membuat kamu jadi malas belajar, malas kuliah, malas ngapa-ngapain, membuat kamu malah jadi mundur kebelakang, itu cinta yang nggak benar …dst”.

Jadi begitu rupanya. Saya mencoba merenungi kata-kata itu lebih dalam. Saya merasakan ada kebenaran dari ‘ceramah’ ibu saya itu. Mencintai seseorang tidak boleh membuat kita menjadi mundur ke belakang. Sebaliknya, mencintai seseorang harus membuat kita lebih produktif, lebih berenergi, lebih punya vitalitas. Singkatnya, mencintai seseorang harus membuat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya!

Lalu secara reflek saya mengaitkan itu dengan kehidupan cinta antara pasangan aktifis dakwah. Antara Ummahat al-Mukminin dengan Rasul Yang Mulia, antara para shahabiyat dengan suami mereka. Lihatlah ekspresi cinta Fathimah putri Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib, Asma’ binti Abi Bakar terhadap Zubair bin Awwam, Ummu Sulaim terhadap Abu Thalhah, juga ekspresi cinta Khansa’, Nusaibah, dan para aktifis dakwah zaman ini. Mencintai suami tidak membuat mereka menjadi lemah atau mundur ke belakang. Mencintai suami juga tidak membuat mereka menjadi tak berdaya atau tak mandiri. Justru yang kita saksikan dalam sejarah, mencintai membuat mereka menjadi semakin kokoh, lebih produktif dan kontributif dalam beramal, lebih matang dan bijaksana dalam berperilaku. Dengan kata lain, mereka menjadi semakin ‘berkembang’ dan ‘bersinar’ setelah menikah!

Betapa indahnya jika ekspresi cinta kita kepada suami membawa dampak seperti itu! Betapa indahnya jika ekspresi kita dalam mencintai suami memberi pengaruh posititif pada kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai aktifis dakwah.

Menurut saya, mencintai suami tidak berarti ‘kehilangan’ diri kita sendiri. Tidak juga berarti kehilangan privacy, tidak membuat kita merasa ‘terhambat’, ‘terbelenggu’, atau ‘tak berdaya’. Kita bisa mencintai suami kita sambil tetap memiliki kepribadian kita sendiri, tetap memiliki privacy. Tentu saja semuanya dalam batas tertentu dan tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan syari’at Allah.

Bahkan yang lebih dahsyat adalah, jika cinta kita kepada suami memiliki ‘kekuatan’ yang menggerakkan dan memotivasi. Lalu cinta itu mampu membuat kita ‘berkembang’, menjadikan kita semakin energik, produktif dan kontributif! Dengan begitu, pernikahan membawa keberkahan tersendiri bagi dakwah. Karena, dakwah mendapatkan ‘kekuatan dan darah baru’ dari pernikahan para aktifisnya.

Apakah hal itu terlalu idealis? Karena kenyataan kadang berkata sebaliknya. Berapa banyak perempuan kita yang setelah menikah merasa dirinya tidak berkembang? Atau merasa hilang potensinya? Saya tidak ingin mengatakan kondisi ‘tenggelamnya’ perempuan setelah menikah sebagai sebuah fenomena, meski kondisi seperti ini sering saya jumpai di Jakarta dan juga ketika saya berkunjung ke daerah-daerah.

Saya tak ingin membahas kenapa itu terjadi, apalagi mencari ‘kambing hitam’ segala. Tetapi kita patut merenungkan kata-kata Imam Syahid Hassan Al-Banna ketika berbicara tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Saya kutipkan kata-kata beliau ini yang terdapat dalam buku Hadits Tsulasa, halaman 629… “Kehidupan rumah tangga adalah ‘hayatul amal’. Ia diwarnai oleh beban-beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong- menolong dalam memikul beban kehidupan dan beban dakwah…”

Rumah tangga merupakan lahan amal. Rumah tangga juga menjadi markaz dakwah. Perjalanan kehidupan rumah tangga para aktifis dakwah bukan hanya dipenuhi romantika semata, tetapi juga diwarnai oleh dinamika semangat beribadah, beramal dan berdakwah. Sebuah perjalanan rumah tangga yang bernuansa ta’awun dalam memikul beban hidup dan beban dakwah. Subhanallah!

Saya memberikan apresiasi kepada para perempuan yang setelah menikah justru semakin ‘bersinar’, kokoh, matang, bijaksana, energik, produktif dan kontributif dalam beramal, sambil menjaga keseimbangan dalam menunaikan tugas sebagai istri dan ibu. Saya percaya, untuk bisa mendapatkan semua kondisi itu ada proses panjang, kerja keras dan pengorbanan yang tidak kecil. Barakallahu fiiki.

Lalu untuk perempuan yang masih merasa ‘terhambat, terbelenggu dan tidak berkembang’ setelah menikah, saya ingin memberi apresiasi secara khusus. Berusahalah untuk menghilangkan perasaan terhambat, terbelenggu atau tidak berkembang itu. Ya, sebab membiarkan perasaan-perasaan semacam itu menguasai diri kita, sama saja dengan ‘menggali kuburan sendiri’. Bukankah lebih baik jika kita tetap berpikir jernih dan positif? Lalu mencari bentuk kontribusi yang paling memungkinkan yang bisa kita berikan untuk dakwah. Bisakah kita tetap berhusnuzhon, selama kita ikhlas menjalani hidup kita, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal kita? Bisakah kita tetap yakin, bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh gelar, jabatan, posisi, kedudukan, ketokohan dan kondisi fisik lainnya?!

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertakwa diantara kamu” (QS al-Hujurat:13).

Jadi, tetaplah tegar dan sedapat mungkin beramal sesuai kemampuan dan kesanggupan, karena kita tidak dituntut untuk beramal diluar kemampuan dan kesanggupan kita. Barakallahu fiiki!

Pergi

berpisah sementara waktu dari keramaian

agar tak ada sesal yang tak berkesudahan

karena tak selamanya

kita bersama.


dpa

dan aku harus pergi

sekarang juga.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

(Imam Syafii)

Older Posts »